Saturday, 10 July 2021

Kritik dan Essai 5 Cerpen M. Shoim Anwar

 

Kritik dan Essai 5 Cerpen M. Shoim Anwar

 

           M. Shoim Anwar yang lahir di dusun Sambong, Kabupaten Jombang dan beliau ini berprofesi sebagai dosen dan sastrawan ternama dengan ratusan-ratusan karya yang cukup fenomenal tentunya. karya-karya yang dihasilkan tersebut antara lain cerpen, novel, essai, dan puisi-puisi. Setamat dari SPG di kota kelahirannya (1984), beliau melanjutkan ke Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, IKIP Surabaya/Universitas Negeri Surabaya, hingga memperoleh gelar doktor. Program S2 dan S3 diselesaikan dengan predikat cumlaude.

          Dari beberapa karya yang dihasilkan oleh M Shoim Anwar tersebut memang cukup fenomenal dan juga merupakan sebuah kritik sosial bahkan sebuah angin segar yang menjadi sebuah harapan dan mengajak para pembacanya tersebut untuk memahami arti sebuah makna dalam perjalanan hidup ini dan kehidupan yang ada dan kelima cerpen tersebut antara lain yang pertama yaitu Sorot Mata Syaila yang ditulis pada tanggal 15 Januari 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Jawa Pos, yang kedua Tahi Lalat yang ditulis pada tanggal 20 Februari 2017 dalam kategori Arsip Cerpen, Media Indonesia, yang ketiga Sepatu Jinjit Aryanti Lalat yang ditulis pada tanggal 17 Januari 2017 dalam kategori Arsip Cerpen, Jawa Pos, yang keempat Bambi dan Perempuan Berselendang Baby Blue yang ditulis pada tanggal 31 Agustus 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Jawa Pos, dan yang terakhir yaitu Jangan ke Istana, Anakku yang ditulis pada tanggal 3 Februari 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Jawa Pos.

           Cerita pendek (cerpen) adalah bentuk prosa baru yang menceritakan sebagian kecil dari kehidupan pelakunya yang terpenting dan paling menarik. Di dalam cerpen boleh ada konflik atau pertikaian, tetapi hal itu tidak menyebabkan perubahan nasib tokohnya. Cerpen ditulis pengarang tidak terlepas dari kehidupan sehari-hari yang dialaminya. Pengalaman hidup ini kemudian diekspresikan ke dalam cerpen. Proses penciptaannya bukan semata-mata menggambarkan kehidupan nyata itu, melainkan didasari oleh pandangan pengarang. Pandangan inilah yang menggambarkan nilai dalam suatu cerpen. Seperti halnya sebuah kisah tentunya cerpen mengandung nilai-nilai kehidupan yang dapat kita ambil sebagai contoh diantaranya adalah nilai agama : berkaitan dengan pelajaran agama yang dapat dipetik dalam teks cerpen., nilai sosial : berkaitan dengan pelajaran yang dapat dipetik dari interaksi sosial antara para tokoh dan lingkungan masyarakat dalam teks cerpen, nilai moral : nilai ini berkaitan dengan nilai yang dianggap baik atau buruk dalam masyarakat. dalam cerpen nilai moral bisa berupa nilai moral negatif (buruk) atau nilai moral positif (baik), nilai budaya : nilai yang berkaitan erat dengan kebudayaan , kebiasaan, serta tradisi adat istiadat. Cerita pendek pada umumnya adalah suatu bentuk karangan fiksi, dan yang paling banyak diterbitkan adalah fiksi seperti fiksi ilmiah, fiksi horor, fiksi detektif, dan lain-lain. Cerita pendek kini juga mencakup bentuk nonfiksi seperti catatan perjalanan, prosa lirik dan varian-varian pasca modern serta non-fiksi seperti fikto-kritis atau jurnalisme baru. Cerita pendek merupakan jenis prosa fiksi yang dibaca selesai sekali duduk berkisar antara setengah jam sampai dua jam sedangkan untuk membaca novel membutuhkan waktu lebih dari dua jam. Umumnya panjang cerita kurang dari 10.000 kata. Di lain sisi, panjang novel lebih dari 10.000 kata. Tema dalam cerita pendek hanya berisi satu tema karena berkaitan dengan keadaan plot dan pelaku yang terbatas. Sementara itu, novel menawarkan lebih dari satu tema yaitu satu tema utama dan tema-tema tambahan. Jika penokohan dalam cerpen sifatnya terbatas maka hal ini tidak berlaku dalam novel. Cerita pendek menggunakan pelukisan latar secara garis besar saja sedangkan penulisan latar dalam novel memerlukan detail khusus tentang keadaan luar misalnya tentang kondisi tempat dan sosial. Setiap rangkaian peristiwa dalam novel disusun sedemikian rupa karena novel terbagi atas bab dan masing-masing bab memiliki cerita yang berbeda-beda. Cerita pendek memiliki plot tunggal hanya terdiri atas satu urutan peristiwa yang terjadi darimana saja. Karena memiliki plot tunggal, maka konflik dan klimaks yang ditimbulkan pun bersifat tunggal. Gaya bahasa yang digunakan dalam cerita pendek lebih efisien dibandingkan dengan novel.  Pengarang memilih diksi, kalimat hingga onomatope secara lebih efisien. Dalam cerpen kecermatan memilih diksi lebih kental daripada sebuah novel.

              Masing-masing dari kelima judul yang merupakan karya M. Shoim Anwar tersebut membahas realitas-realitas sosial yang terjadi saat ini dimana realitas sosial tersebut bisa dikaitkan dengan realitas-realitas sosial lainnya dalam cerpen yang pertama dengan judul Sorot Mata Syaila tersebut memiliki sebuah sinopsis yaitu di Bandara Internasional Abu Dhabi, pada pukul satu dini hari, jantung saya berdetak lebih cepat. Pipi gadis itu perlahan menempel di bahuku. Terasa lebih dekat dan hangat. Awalnya dia mencoba mengangkat kepalanya beberapa kali, tetapi seiring berjalannya waktu, kesadarannya menjadi semakin lemah. Tangan wanita itu terlipat di lututnya. Lengan bajunya terlepas. Rambut panjang tampak tumbuh di lengannya. Kulitnya bersih dan cerah, dan bulunya bisa terlihat dari pangkal hingga ujung tumbuhnya. Meskipun kukunya dipotong agak tajam, warnanya merah muda, seperti kurma dewasa di pohon. Di Uni Emirat Arab, saya harus berganti pesawat. Penumpang harus menunggu enam jam. Saya masih harus menerbangkan Etihad Airways nomor penerbangan EY 474 selama sekitar 9 jam. Jaraknya masih terbentang sekitar 5.594 kilometer. Transit dan penumpang baru memadati lantai dua. Dari sini terdapat realitas-realitas sosial dimana adanya perempuan yang memiliki model sebagai pembantu yang dalam bahasa halus merupakan seorang tenaga kerja wanita.

“Ismii Matalir,” aku memperkenalkan na ma ku. Bukan nama resmi, tapi nama panggilan waktu kecil.

Perempuan itu memandangku. Mungkin dia merasa aneh mendengarnya.

“Maasmuka? Mat…alir?”

Aku mengangguk.

“Ana min Indonesia,” aku melanjutkan. Dia tersenyum dan manggut-manggut. Beberapa saat aku masih memandang ke arahnya. Perempuan muda itu berhidung mancung dan beralis tebal. Kulit mukanya cerah dengan bibir mengilat semu merah. Bulu-bulu lembut di atas bibirnya menguat meski tampak samar.

“Ilaa ayn tadzhab?” aku bertanya ke mana dia pergi.

“Pakistan.”

Kami saling tersenyum. Koper di depannya aku rapikan lagi agar tidak menghalangi orang lewat. Kami berbasa-basi beberapa saat. Dia lalu melihat-lihat telepon selulernya, kemudian menoleh ke arahku kembali.

Dalam  beberapa kutipan yang ada dalam cerpen yang berjudul Sorot Mata Syaila tersebut memiliki kejelasan dimana sebuah perkenalan seorang wanita Indonesia dengan seorang pria berdarah Arab di Bandara Internasional Abu Dhabi ketika menunggu pesawat di ruang tunggu. Disini juga kita itu merupakan makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri tanpa bersosialisasi satu dengan yang lainnya dan kita dibelahan dunia manapun kita harus bersosialisasi dengan siapapun.

Perkara ini tidak melibatkan aku seorang diri. Seluruh keluarga, istri dan anak-anak, juga diperiksa karena diduga teraliri dana dalam bentuk kepemilikan saham perusahaan. Si alan, seorang teman anggota parlemen yang menjadi terdakwa “menyanyi” saat di persidangan, termasuk mengungkap liku-liku pemenangan tender yang telah kami skenariokan untuk perusahaan keluarga. Pengakuan itu bahkan telah masuk dalam berita acara peme riksaan alias BAP. Jumlah kerugian uang negara juga telah disebut. Dari sini juga terdapat kritik sosial dimana kita itu dimata hukum semua sama karena kita itu sebagai warga negara yang baik kita harus taat dan patut pada hukum yang berlaku karena itu akibat perbuatan kita maka kita harus bertanggung jawab.

Cerpen kedua dengan judul Tahi Lalat tersebut memiliki sinopsis yaitu Bu Lurah memiliki tahi lalat di dadanya. Ini adalah berita yang menyebar di sini. Keberadaannya seperti wabah. Lembut tapi pasti. Mungkin orang masih tidak mau mengatakannya di depan umum. Mereka membisikkan berita, dengan mulut dekat dengan telinga pendengar, sementara yang lain mendekatkan telinga ke mulut pembicara. Mereka mengangguk, tersenyum dan membuat gerakan menggelegak dengan tangan di dada, lalu mengarahkan jari telunjuk ke dada, menunjukkan bahwa mereka telah mengerti. Mungkin karena keberadaannya relatif jelas, dan orang-orang pada akhirnya akan saling memberikan kata sandi saat melewatinya. Ketika mereka berada dalam kelompok, satu orang sudah memberikan kode, dan yang lain mengacungkan jempol untuk menunjukkan pengertian. Bagi yang tidak yakin, saya akan bertanya dengan lantang ketika saya lewat.

Dalam cerpen ini juga seseorang yang menjadi seorang pemimpin haruslah turun ke bawah untuk melihat kondisi rakyatnya yang dibawah lagi mengalami kesulitan selain itu kita sebagai pemimpin harus jujur dan amanah agar rakyat bisa percaya pada kita jangan seperti pada beberapa kutipan ini

“Kalau tidak mau menjual, akan dipagari oleh pengembang perumahan,” begitulah kata-kata intimidasi yang sering dilontarkan Pak Bayan kepada warga.

“Lama-lama desa ini habis terjual,” kataku pada Pak Bayan.

“Habis gimana?” jawab Pak Bayan enteng.

“Bilang sama Pak Lurah,” aku melanjutkan, “mestinya kehidupan kami diperbaiki agar makmur. Diciptakan lapangan kerja baru. Bukan mengancam agar rakyat menjual tanahnya kayak kompeni.”

“Kalau ada perumahan, pasti warga dapat kesempatan kerja.”

“Jadi kuli dan babu!” aku menyergah

Dari beberapa kutipan tersebut hal tersebut merupakan sebuah ketidakadilan seorang petinggi yang mana petinggi tersebut memperlakukan yang tidak wajar kepada rakyat dan seakan-akan haus sekali dengan kekuasaan yang telah dimilikinya dengan cara yaitu menjual tanahnya dengan harga yang lumayan mahal. Begitu tanah-tanah yang strategis itu terlepas dari pemiliknya.

Cerpen ketiga dengan judul Sepatu Jinjit Aryanti tersebut memiliki sinopsis yaitu Tanah di bawahnya botak, seperti rambut orang tua yang rontok. Dari jendela kamar tidur di lantai 25, saya melihat gedung-gedung membentuk bayangan. Matahari hampir menyelesaikan rotasinya.

Di gedung-gedung tinggi yang belum selesai, tangga dengan katrol besar tidak lagi bergerak, dan lehernya terangkat ke langit seperti kerangka beku predator kuno. Bangunan yang lebih pendek terlihat seperti kotak yang tersebar dengan atap abu-abu dan biru. Bangunannya masih belum kokoh. Mobil diparkir di sekitarnya. Tidak ada tanda-tanda denyut kehidupan. Dari atas gedung hingga lantai bawah, suasana sepi.

Alianti masih sibuk membuka koper. Saya tidak tahu apa yang harus dicari. Sepatu kaki yang dia coba kenakan tersangkut di lantai di depan pintu. Karena membungkuk, rok wanita itu ditarik ke atas, membuat paha belakangnya lebih terlihat. Aryanti pada awalnya adalah perempuan biasa. Dia seorang caddy di lapangan golf. Kelebihannya adalah berparas cantik dan lincah. Kulitnya cerah, hidung cenderung kecil tapi terkesan runcing, serta bibir bawahnya bulat dengan belahan di tengah. Kini aku ibarat pengembala yang harus mengendalikannya. Dari sinopsis ini menjelaskan bahwa Aryanti telah mencoba sepatu jinjitnya beberapa saat setelah masuk kamar tadi. Dia berjalan memutar-mutar tak ubahnya seorang peragawati. Sejenak dia berdiri mendekatiku. Seperti dia sengaja menjajaki tinggi tubuhnya dengan aku. Terselip rasa bangga karena ketinggiannya denganku hampir sama. Dimana kita sebagai manusia tersebut haruslah bersyukur apa yang telah diberikan selama ini tersebut tidak boleh disia-siakan karena akan dicabut rezeki tersebut. Selain itu akan ada beberapa kutipan dibawah sebagai berikut

“Hai…,” kata perempuan muda yang tadi diajak Bambi berdansa.

“Hai,” saya membalas.

“Kenalkan,” Bambi menunjuk ke perempuan itu.

“Miske,” perempuan itu mengulurkan tangan, sementara tangan kiri menyibakkan rambut panjangnya yang menjurai ke pipi.

“Anik,” saya juga memperkenalkan diri.

Mereka membenahi duduknya dan bergeser. Saya ikut duduk.

“Kok cepat turunnya?” saya memulai lagi.

“Nggak kuat kalau terus salsa,” Bambi menepuk-nepuk perutnya.

Cerpen keempat dengan judul Bambi dan Perempuan Berselendang Baby Blue tersebut memiliki sinopsis yaitu Seiring dengan langkah kaki penari, Anda bisa mendengar irama tarian salsa. Lantai porselen putih susu terlihat berkilau sampai-sampai tidak ada permukaannya. Kaki itu telah melewati batas. Telapak tangan saling menopang antara telapak tangan atas dan bawah. Mereka melangkah maju ke arah yang berbeda. Saat kaki diangkat, sepertinya ada ruang kosong di tengah. Gerakannya juga berputar cepat, membentuk cerita yang enak untuk ditonton. Pantulannya terlihat sedikit kabur, tetapi terlihat indah karena membentuk garis yang lebih dalam dan lebih luas. Meski musik terdengar, langkah kaki masih bisa terdengar. Tergantung pada ritme yang mereka mainkan, terkadang lembut, terkadang keras. Iramanya memang serba cepat, energik, ceria, dan terlihat patah-patah. Saya melihat empat pasang di lantai dansa. Yang lain duduk di sana menunggu tarian Polandia berikutnya.

Cerpen kelima dengan judul Jangan ke Istana, Anakku tersebut memiliki sinopsis Aku ingin membangun sebuah rumah kecil untukmu, anakku. Ini bukan istana, karena di istana yang dikelilingi oleh sungai buaya, Anda sedang ditahan oleh anjing penjaga yang bersiap untuk memangsa pagar kawat berduri yang tinggi. Di pintu, penjaga yang tidak ramah selalu curiga terhadap tamu yang ingin menawarkan bunga. Kapan saya bisa mencampur rasa? Bunga yang Anda terima bukan dari tangan pertama. Bibir pecah-pecah itu tidak tersenyum. Itu hanya omong kosong, karena Tiantian telah disunat oleh penjaga, dan mahkotanya diganti dengan bungkus plastik. Saya adalah anggota penjaga pengadilan. Jangan mengobrol dengan siapa pun di sana. Dekrit ditulis dengan tinta abadi. Keras seperti tembaga. Saya harus berdiri tegak seperti patung di gerbang tugas. Menunggu waktu setelahnya, memuaskan dahaga dan memperkaya. Saya bukan orang yang hanya bisa meragukan keraton, karena saya hadir setiap hari sebagai saksi sejarah.

Sumber referensi :

https://id.wikipedia.org/wiki/Cerita_pendek

http://www.mikirbae.com/2017/04/unsur-kebahasaan-teks-cerpen.html

No comments:

Post a Comment

Kritik dan Essai 5 Cerpen M. Shoim Anwar

  Kritik dan Essai 5 Cerpen M. Shoim Anwar              M. Shoim Anwar yang lahir di dusun Sambong, Kabupaten Jombang dan beliau ini ber...