Kritik dan Essai 5 Cerpen M. Shoim
Anwar
M. Shoim Anwar yang lahir di dusun
Sambong, Kabupaten Jombang dan beliau ini berprofesi sebagai dosen dan
sastrawan ternama dengan ratusan-ratusan karya yang cukup fenomenal tentunya.
karya-karya yang dihasilkan tersebut antara lain cerpen, novel, essai, dan
puisi-puisi. Setamat dari SPG di kota kelahirannya (1984), beliau melanjutkan
ke Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, IKIP Surabaya/Universitas
Negeri Surabaya, hingga memperoleh gelar doktor. Program S2 dan S3 diselesaikan
dengan predikat cumlaude.
Dari beberapa karya yang dihasilkan
oleh M Shoim Anwar tersebut memang cukup fenomenal dan juga merupakan sebuah
kritik sosial bahkan sebuah angin segar yang menjadi sebuah harapan dan
mengajak para pembacanya tersebut untuk memahami arti sebuah makna dalam
perjalanan hidup ini dan kehidupan yang ada dan kelima cerpen tersebut antara
lain yang pertama yaitu Sorot Mata Syaila yang ditulis pada tanggal 15 Januari
2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Jawa Pos, yang kedua Tahi Lalat yang ditulis
pada tanggal 20 Februari 2017 dalam kategori Arsip Cerpen, Media Indonesia, yang
ketiga Sepatu Jinjit Aryanti Lalat yang ditulis pada tanggal 17 Januari 2017
dalam kategori Arsip Cerpen, Jawa Pos, yang keempat Bambi dan Perempuan
Berselendang Baby Blue yang ditulis pada tanggal 31 Agustus 2015 dalam kategori
Arsip Cerpen, Jawa Pos, dan yang terakhir yaitu Jangan ke Istana, Anakku yang
ditulis pada tanggal 3 Februari 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Jawa Pos.
Cerita pendek (cerpen) adalah bentuk
prosa baru yang menceritakan sebagian kecil dari kehidupan pelakunya yang
terpenting dan paling menarik. Di dalam cerpen boleh ada konflik atau
pertikaian, tetapi hal itu tidak menyebabkan perubahan nasib tokohnya. Cerpen
ditulis pengarang tidak terlepas dari kehidupan sehari-hari yang dialaminya.
Pengalaman hidup ini kemudian diekspresikan ke dalam cerpen. Proses
penciptaannya bukan semata-mata menggambarkan kehidupan nyata itu, melainkan
didasari oleh pandangan pengarang. Pandangan inilah yang menggambarkan nilai
dalam suatu cerpen. Seperti halnya sebuah kisah tentunya cerpen mengandung
nilai-nilai kehidupan yang dapat kita ambil sebagai contoh diantaranya adalah nilai
agama : berkaitan dengan pelajaran agama yang dapat dipetik dalam teks cerpen.,
nilai sosial : berkaitan dengan pelajaran yang dapat dipetik dari interaksi
sosial antara para tokoh dan lingkungan masyarakat dalam teks cerpen, nilai
moral : nilai ini berkaitan dengan nilai yang dianggap baik atau buruk dalam
masyarakat. dalam cerpen nilai moral bisa berupa nilai moral negatif (buruk) atau
nilai moral positif (baik), nilai budaya : nilai yang berkaitan erat dengan
kebudayaan , kebiasaan, serta tradisi adat istiadat. Cerita pendek pada umumnya
adalah suatu bentuk karangan fiksi, dan yang paling banyak diterbitkan adalah
fiksi seperti fiksi ilmiah, fiksi horor, fiksi detektif, dan lain-lain. Cerita
pendek kini juga mencakup bentuk nonfiksi seperti catatan perjalanan, prosa
lirik dan varian-varian pasca modern serta non-fiksi seperti fikto-kritis atau
jurnalisme baru. Cerita pendek merupakan jenis prosa fiksi yang dibaca selesai
sekali duduk berkisar antara setengah jam sampai dua jam sedangkan untuk
membaca novel membutuhkan waktu lebih dari dua jam. Umumnya panjang cerita
kurang dari 10.000 kata. Di lain sisi, panjang novel lebih dari 10.000 kata.
Tema dalam cerita pendek hanya berisi satu tema karena berkaitan dengan keadaan
plot dan pelaku yang terbatas. Sementara itu, novel menawarkan lebih dari satu
tema yaitu satu tema utama dan tema-tema tambahan. Jika penokohan dalam cerpen
sifatnya terbatas maka hal ini tidak berlaku dalam novel. Cerita pendek
menggunakan pelukisan latar secara garis besar saja sedangkan penulisan latar
dalam novel memerlukan detail khusus tentang keadaan luar misalnya tentang
kondisi tempat dan sosial. Setiap rangkaian peristiwa dalam novel disusun
sedemikian rupa karena novel terbagi atas bab dan masing-masing bab memiliki
cerita yang berbeda-beda. Cerita pendek memiliki plot tunggal hanya terdiri
atas satu urutan peristiwa yang terjadi darimana saja. Karena memiliki plot
tunggal, maka konflik dan klimaks yang ditimbulkan pun bersifat tunggal. Gaya
bahasa yang digunakan dalam cerita pendek lebih efisien dibandingkan dengan
novel. Pengarang memilih diksi, kalimat
hingga onomatope secara lebih efisien. Dalam cerpen kecermatan memilih diksi
lebih kental daripada sebuah novel.
Masing-masing dari kelima judul
yang merupakan karya M. Shoim Anwar tersebut membahas realitas-realitas sosial
yang terjadi saat ini dimana realitas sosial tersebut bisa dikaitkan dengan
realitas-realitas sosial lainnya dalam cerpen yang pertama dengan judul Sorot
Mata Syaila tersebut memiliki sebuah sinopsis yaitu di Bandara Internasional
Abu Dhabi, pada pukul satu dini hari, jantung saya berdetak lebih cepat. Pipi
gadis itu perlahan menempel di bahuku. Terasa lebih dekat dan hangat. Awalnya
dia mencoba mengangkat kepalanya beberapa kali, tetapi seiring berjalannya
waktu, kesadarannya menjadi semakin lemah. Tangan wanita itu terlipat di
lututnya. Lengan bajunya terlepas. Rambut panjang tampak tumbuh di lengannya.
Kulitnya bersih dan cerah, dan bulunya bisa terlihat dari pangkal hingga ujung
tumbuhnya. Meskipun kukunya dipotong agak tajam, warnanya merah muda, seperti
kurma dewasa di pohon. Di Uni Emirat Arab, saya harus berganti pesawat.
Penumpang harus menunggu enam jam. Saya masih harus menerbangkan Etihad Airways
nomor penerbangan EY 474 selama sekitar 9 jam. Jaraknya masih terbentang
sekitar 5.594 kilometer. Transit dan penumpang baru memadati lantai dua. Dari sini
terdapat realitas-realitas sosial dimana adanya perempuan yang memiliki model
sebagai pembantu yang dalam bahasa halus merupakan seorang tenaga kerja wanita.
“Ismii
Matalir,” aku memperkenalkan na ma ku. Bukan nama resmi, tapi nama panggilan
waktu kecil.
Perempuan
itu memandangku. Mungkin dia merasa aneh mendengarnya.
“Maasmuka?
Mat…alir?”
Aku
mengangguk.
“Ana
min Indonesia,” aku melanjutkan. Dia tersenyum dan manggut-manggut. Beberapa
saat aku masih memandang ke arahnya. Perempuan muda itu berhidung mancung dan
beralis tebal. Kulit mukanya cerah dengan bibir mengilat semu merah. Bulu-bulu
lembut di atas bibirnya menguat meski tampak samar.
“Ilaa
ayn tadzhab?” aku bertanya ke mana dia pergi.
“Pakistan.”
Kami
saling tersenyum. Koper di depannya aku rapikan lagi agar tidak menghalangi
orang lewat. Kami berbasa-basi beberapa saat. Dia lalu melihat-lihat telepon
selulernya, kemudian menoleh ke arahku kembali.
Dalam
beberapa kutipan yang ada dalam cerpen
yang berjudul Sorot Mata Syaila tersebut memiliki kejelasan dimana sebuah
perkenalan seorang wanita Indonesia dengan seorang pria berdarah Arab di Bandara
Internasional Abu Dhabi ketika menunggu pesawat di ruang tunggu. Disini juga
kita itu merupakan makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri tanpa
bersosialisasi satu dengan yang lainnya dan kita dibelahan dunia manapun kita
harus bersosialisasi dengan siapapun.
Perkara
ini tidak melibatkan aku seorang diri. Seluruh keluarga, istri dan anak-anak,
juga diperiksa karena diduga teraliri dana dalam bentuk kepemilikan saham perusahaan.
Si alan, seorang teman anggota parlemen yang menjadi terdakwa “menyanyi” saat
di persidangan, termasuk mengungkap liku-liku pemenangan tender yang telah kami
skenariokan untuk perusahaan keluarga. Pengakuan itu bahkan telah masuk dalam
berita acara peme riksaan alias BAP. Jumlah kerugian uang negara juga telah
disebut. Dari sini juga terdapat kritik sosial dimana kita itu dimata hukum
semua sama karena kita itu sebagai warga negara yang baik kita harus taat dan
patut pada hukum yang berlaku karena itu akibat perbuatan kita maka kita harus
bertanggung jawab.
Cerpen
kedua dengan judul Tahi Lalat tersebut memiliki sinopsis yaitu Bu Lurah memiliki
tahi lalat di dadanya. Ini adalah berita yang menyebar di sini. Keberadaannya
seperti wabah. Lembut tapi pasti. Mungkin orang masih tidak mau mengatakannya
di depan umum. Mereka membisikkan berita, dengan mulut dekat dengan telinga
pendengar, sementara yang lain mendekatkan telinga ke mulut pembicara. Mereka
mengangguk, tersenyum dan membuat gerakan menggelegak dengan tangan di dada,
lalu mengarahkan jari telunjuk ke dada, menunjukkan bahwa mereka telah
mengerti. Mungkin karena keberadaannya relatif jelas, dan orang-orang pada
akhirnya akan saling memberikan kata sandi saat melewatinya. Ketika mereka
berada dalam kelompok, satu orang sudah memberikan kode, dan yang lain
mengacungkan jempol untuk menunjukkan pengertian. Bagi yang tidak yakin, saya
akan bertanya dengan lantang ketika saya lewat.
Dalam
cerpen ini juga seseorang yang menjadi seorang pemimpin haruslah turun ke bawah
untuk melihat kondisi rakyatnya yang dibawah lagi mengalami kesulitan selain
itu kita sebagai pemimpin harus jujur dan amanah agar rakyat bisa percaya pada
kita jangan seperti pada beberapa kutipan ini
“Kalau
tidak mau menjual, akan dipagari oleh pengembang perumahan,” begitulah
kata-kata intimidasi yang sering dilontarkan Pak Bayan kepada warga.
“Lama-lama
desa ini habis terjual,” kataku pada Pak Bayan.
“Habis
gimana?” jawab Pak Bayan enteng.
“Bilang
sama Pak Lurah,” aku melanjutkan, “mestinya kehidupan kami diperbaiki agar
makmur. Diciptakan lapangan kerja baru. Bukan mengancam agar rakyat menjual
tanahnya kayak kompeni.”
“Kalau
ada perumahan, pasti warga dapat kesempatan kerja.”
“Jadi
kuli dan babu!” aku menyergah
Dari
beberapa kutipan tersebut hal tersebut merupakan sebuah ketidakadilan seorang
petinggi yang mana petinggi tersebut memperlakukan yang tidak wajar kepada
rakyat dan seakan-akan haus sekali dengan kekuasaan yang telah dimilikinya
dengan cara yaitu menjual tanahnya dengan harga yang lumayan mahal. Begitu
tanah-tanah yang strategis itu terlepas dari pemiliknya.
Cerpen
ketiga dengan judul Sepatu Jinjit Aryanti tersebut memiliki sinopsis yaitu Tanah
di bawahnya botak, seperti rambut orang tua yang rontok. Dari jendela kamar
tidur di lantai 25, saya melihat gedung-gedung membentuk bayangan. Matahari
hampir menyelesaikan rotasinya.
Di
gedung-gedung tinggi yang belum selesai, tangga dengan katrol besar tidak lagi
bergerak, dan lehernya terangkat ke langit seperti kerangka beku predator kuno.
Bangunan yang lebih pendek terlihat seperti kotak yang tersebar dengan atap
abu-abu dan biru. Bangunannya masih belum kokoh. Mobil diparkir di sekitarnya.
Tidak ada tanda-tanda denyut kehidupan. Dari atas gedung hingga lantai bawah,
suasana sepi.
Alianti
masih sibuk membuka koper. Saya tidak tahu apa yang harus dicari. Sepatu kaki
yang dia coba kenakan tersangkut di lantai di depan pintu. Karena membungkuk,
rok wanita itu ditarik ke atas, membuat paha belakangnya lebih terlihat. Aryanti
pada awalnya adalah perempuan biasa. Dia seorang caddy di lapangan golf.
Kelebihannya adalah berparas cantik dan lincah. Kulitnya cerah, hidung
cenderung kecil tapi terkesan runcing, serta bibir bawahnya bulat dengan
belahan di tengah. Kini aku ibarat pengembala yang harus mengendalikannya. Dari
sinopsis ini menjelaskan bahwa Aryanti telah mencoba sepatu jinjitnya beberapa
saat setelah masuk kamar tadi. Dia berjalan memutar-mutar tak ubahnya seorang
peragawati. Sejenak dia berdiri mendekatiku. Seperti dia sengaja menjajaki
tinggi tubuhnya dengan aku. Terselip rasa bangga karena ketinggiannya denganku
hampir sama. Dimana kita sebagai manusia tersebut haruslah bersyukur apa yang
telah diberikan selama ini tersebut tidak boleh disia-siakan karena akan
dicabut rezeki tersebut. Selain itu akan ada beberapa kutipan dibawah sebagai
berikut
“Hai…,”
kata perempuan muda yang tadi diajak Bambi berdansa.
“Hai,”
saya membalas.
“Kenalkan,”
Bambi menunjuk ke perempuan itu.
“Miske,”
perempuan itu mengulurkan tangan, sementara tangan kiri menyibakkan rambut
panjangnya yang menjurai ke pipi.
“Anik,”
saya juga memperkenalkan diri.
Mereka
membenahi duduknya dan bergeser. Saya ikut duduk.
“Kok
cepat turunnya?” saya memulai lagi.
“Nggak
kuat kalau terus salsa,” Bambi menepuk-nepuk perutnya.
Cerpen
keempat dengan judul Bambi dan Perempuan Berselendang Baby Blue tersebut
memiliki sinopsis yaitu Seiring dengan langkah kaki penari, Anda bisa mendengar
irama tarian salsa. Lantai porselen putih susu terlihat berkilau sampai-sampai
tidak ada permukaannya. Kaki itu telah melewati batas. Telapak tangan saling
menopang antara telapak tangan atas dan bawah. Mereka melangkah maju ke arah
yang berbeda. Saat kaki diangkat, sepertinya ada ruang kosong di tengah.
Gerakannya juga berputar cepat, membentuk cerita yang enak untuk ditonton.
Pantulannya terlihat sedikit kabur, tetapi terlihat indah karena membentuk
garis yang lebih dalam dan lebih luas. Meski musik terdengar, langkah kaki
masih bisa terdengar. Tergantung pada ritme yang mereka mainkan, terkadang
lembut, terkadang keras. Iramanya memang serba cepat, energik, ceria, dan
terlihat patah-patah. Saya melihat empat pasang di lantai dansa. Yang lain
duduk di sana menunggu tarian Polandia berikutnya.
Cerpen
kelima dengan judul Jangan ke Istana, Anakku tersebut memiliki sinopsis Aku
ingin membangun sebuah rumah kecil untukmu, anakku. Ini bukan istana, karena di
istana yang dikelilingi oleh sungai buaya, Anda sedang ditahan oleh anjing
penjaga yang bersiap untuk memangsa pagar kawat berduri yang tinggi. Di pintu,
penjaga yang tidak ramah selalu curiga terhadap tamu yang ingin menawarkan bunga.
Kapan saya bisa mencampur rasa? Bunga yang Anda terima bukan dari tangan
pertama. Bibir pecah-pecah itu tidak tersenyum. Itu hanya omong kosong, karena
Tiantian telah disunat oleh penjaga, dan mahkotanya diganti dengan bungkus
plastik. Saya adalah anggota penjaga pengadilan. Jangan mengobrol dengan siapa
pun di sana. Dekrit ditulis dengan tinta abadi. Keras seperti tembaga. Saya
harus berdiri tegak seperti patung di gerbang tugas. Menunggu waktu setelahnya,
memuaskan dahaga dan memperkaya. Saya bukan orang yang hanya bisa meragukan
keraton, karena saya hadir setiap hari sebagai saksi sejarah.
Sumber
referensi :
https://id.wikipedia.org/wiki/Cerita_pendek
http://www.mikirbae.com/2017/04/unsur-kebahasaan-teks-cerpen.html
No comments:
Post a Comment