Friday, 26 March 2021

  “Ulama Abiyasa Tak Pernah Minta Jatah”   

           Puisi M. Shoim Anwar

 


Ulama Abiyasa adalah guru yang mulia

panutan para kawula dari awal kisah

ia adalah cagak yang tegak

tak pernah silau oleh gebyar dunia

tak pernah ngiler oleh umpan penguasa

tak pernah ngesot ke istana untuk meminta jatah

tak pernah gentar oleh gertak sejuta tombak

tak pernah terpana oleh singgasana raja-raja

 

Ulama Abiyasa merengkuh teguh hati dan lidah

marwah digenggam hingga ke dada

tuturnya indah menyemaikan aroma bunga

senyumnya merasuk hingga ke sukma

langkahnya menjadi panutan bijaksana

kehormatan ditegakkan tanpa sebiji senjata

 

Ulama Abiyasa bertitah

para raja dan penguasa bertekuk hormat padanya

tak ada yang berani datang minta dukungan jadi penguasa

menjadikannya sebagai pengumpul suara

atau didudukkan di kursi untuk dipajang di depan massa

diberi pakaian dan penutup kepala berharga murah

agar tampak sebagai barisan ulama

Ulama Abiyasa tak membutuhkan itu semua

datanglah jika ingin menghaturkan sembah

semua diterima dengan senyum mempesona

jangan minta diplintirkan ayat-ayat asal kena

sebab ia lurus apa adanya

mintalah arah dan jalan sebagai amanah

bukan untuk ditembangkan sebagai bunga kata-kata

tapi dilaksanakan sepenuh langkah

Penghujung Desember 2020


Desember 2020


Puisi diatas tersebut merupakan buah karya dari M.Shoim Anwar yang berprofesi sebagai sastrawan dan dosen dan beliau lahir di Desa Sambong, Kabupaten Jombang dimana buah karyanya tersebut terdiri dari puisi, novel, cerpen, dan essai serta salah satu buah karyanya tersebut adalah   “Ulama Abiyasa Tak Pernah Minta Jatah”  

Menurut Pradopo (2009: 7) puisi merupakan ekspresi pemikiran yang membangkitkan emosi dan merangsang imajinasi panca indera dalam tatanan ritmis. Seperti syair di atas yang berjudul “Ulama Abyasa yang Tidak Pernah Meminta Jatah”, penulis menggunakan nama salah satu tokoh dalam pewayangan Jawa yaitu Begawan Abyasa. Begawan Abyasa adalah kakek dari Pandawa dan Korawa. Padahal, Begawan Abyasa adalah seorang pertapa. Begawan Abyasa datang ke Istana Hastinapura karena dipanggil oleh Ratu Durgandini yang wafat setelah ibunya menikah dengan Citrawirya, dan Citrawirya menggantikan Citrawirya saat ia berhasil. Akhirnya, istri Abbiatha melahirkan setiap anak laki-laki, Drestarastra, ayah Kolavas, dan Pandu, ayah Pandawa. Sudah waktunya bagi Begawan Abyasa untuk turun tahta, dan dia akan kembali ke pertapa. Dalam puisi di atas, bait pertama memiliki makna bahwa seseorang yang mulia dan tidak pernah tergoda akan kekuasaan duniawi. Bait pertama puisi di atas sebagai berikut. Ulama Abiyasa adalah guru yang mulia panutan para kawula dari awal kisah ia adalah cagak yang tegak tak pernah silau oleh gebyar dunia tak pernah ngiler oleh umpan penguasa tak pernah ngesot ke istana untuk meminta jatah tak pernah gentar oleh gertak sejuta tombak tak pernah terpana oleh singgasana raja-raja

Pada bait kedua, ini berarti bahwa seseorang bersikeras pada harga diri dan kehormatan, tetapi tetap memiliki rasa keramahan dan kelembutan, sehingga banyak orang yang menghormatinya.

Bait kedua dari puisi di atas adalah sebagai berikut.

Ulama Abiyasa merengkuh teguh hati dan lidah

marwah digenggam hingga ke dada

tuturnya indah menyemaikan aroma bunga

senyumnya merasuk hingga ke sukma

langkahnya menjadi panutan bijaksana

kehormatan ditegakkan tanpa sebiji senjata

Di bait ketiga, ini merujuk pada pemimpin kesejahteraan sosial yang sederhana dan dapat dipercaya. Bait ketiga dari puisi di atas adalah sebagai berikut.

Ulama Abiyasa bertitah

para raja dan penguasa bertekuk hormat padanya

tak ada yang berani datang minta dukungan jadi penguasa

menjadikannya sebagai pengumpul suara

atau didudukkan di kursi untuk dipajang di depan massa

 

diberi pakaian dan penutup kepala berharga murah

agar tampak sebagai barisan ulama

 

Pada bait keempat, itu berarti orang yang berpikir. Seseorang yang berdoa dengan sepenuh hati untuk melakukan segala sesuatu melalui bimbingan tidak akan mudah menyerah dan ikhlas.

Bagian keempat dari puisi di atas adalah sebagai berikut.

Ulama Abiyasa tak membutuhkan itu semua

datanglah jika ingin menghaturkan sembah

semua diterima dengan senyum mempesona

jangan minta diplintirkan ayat-ayat asal kena

sebab ia lurus apa adanya

mintalah arah dan jalan sebagai amanah

bukan untuk ditembangkan sebagai bunga kata-kata

tapi dilaksanakan sepenuh langkah

Dalam kehidupan saat ini, Ulama Abyasa dapat terhubung dengan guru atau pendidik. Seorang guru yang mendidik anak dengan tulus dan ikhlas tidak mengharapkan imbalan apa pun,  sehingga banyak orang yang menghormatinya.  Awalnya, semua jurusan atau bidang tidak lepas dari pengajaran guru.

Dalam puisi di atas yang berjudul  terdiri dari 4 bait dan 29 baris. Keunggulan puisi di atas adalah setiap baris pantun dan pilihan kata mudah dipahami.




Monday, 22 March 2021

 

Nama.                 : Muhammad Bagus Bagaskoro Angkasa

NIM                     : 175200021

Prodi                   : Pendidikan Bahasa Indonesia 2017 B

Mata Kuliah       : Jurnalistik

 

Pengalaman Perjalanan Ke Jakarta Bersama Keluarga

 

        Daerah Khusus Ibukota Jakarta (DKI Jakarta) adalah ibu kota dan kota terbesar di Indonesia. Jakarta merupakan satu-satunya kota di Indonesia yang berstatus provinsi. Jakarta terletak di pesisir barat laut Pulau Jawa. Dulu dikenal dengan banyak nama, antara lain Sunda Kelapa, Jayakarta, dan Batavia. Secara internasional, Jakarta juga punya julukan "J-Town",atau lebih populer karena dianggap sebanding dengan New York City (Big Apple) di Indonesia. Luas wilayah Jakarta kira-kira 7. 664,01km² dengan populasi 10.557.810 (2019). Wilayah Metropolitan Jakarta (Jabodetabek) berpenduduk sekitar 28 juta jiwa, menjadikannya wilayah metropolitan terluas di Asia Tenggara atau kedua di dunia.

      Pada hari Jumat tanggal 22 Januari 2016  saya melakukan perjalanan ke Jakarta bersama keluarga besar saya yang berada dikota Surabaya untuk melakukan silaturahmi ke keluarga besar saya yang ada dikota Jakarta dengan menggunakan transportasi kereta api yang berangkat pada malam hari dengan menggunakan kereta api kertajaya yang berangkat pada pukul 21.10 dimana selama perjalanan tersebut saya bersama rombongan tersebut sangat menikmati sekali perjalanan tersebut dan kereta api yang kami tumpangi tersebut tiba dikota tujuan pada pagi hari setelah melakukan perjalanan yang cukup melelahkan akhirnya rombongan kami tiba di stasiun pasar senin setelah tiba rombongan kami bertemu dengan keluarga besar kami yang berada di Jakarta.

        Setelah tiba di Jakarta, rombongan keluarga saya melakukan perjalanan keliling Jakarta dan sekitar dari pengalaman liburan kali ini saya merasa cukup senang sekali bisa bertemu dengan keluarga besar saya dalam kegiatan ini. Semoga silaturahmi ini bisa dilakukan dilain waktu dan kesempatan yang ada.

 

Friday, 19 March 2021

 “Ulama Durna Ngesot ke Istana

  Puisi :  M. Shoim Anwar




 

 Lihatlah

sebuah panggung di negeri sandiwara

ketika ada Ulama Durna ngesot ke istana

menjilat pantat raja agar diberi jatah remah-remah

maka kekuasaan menjadi sangat pongah

memesan potongan-potongan ayat untuk diplintir sekenanya

agar segala tingkah polah dianggap absah

 Lihatlah

ketika Ulama Durna ngesot ke istana

menyerahkan marwah yang dulu diembannya

Sengkuni dan para pengikutnya di luar sana

bertingkah sok gagah berlindung di ketiak penguasa

menunggang banteng bermata merah

mengacungkan arit sebagai senjata

memukulkan palu memvonis orang-orang ke penjara

 

Lihatlah

ketika Ulama Durna berdagang mantra berbusa-busa

adakah ia hendak menyulut api baratayuda

para pengikutnya mabuk ke lembah-lembah

tatanan yang dulu dicipta oleh para pemula

porak poranda dijajah tipu daya

oh tahta dunia yang fana

para begundal mengaku dewa-dewa

sambil menuding ke arah kawula

seakan isi dunia hendak diuntal mentah-mentah

 

Lihatlah

ketika Ulama Durna ngesot ke istana

pada akhir perebutan tahta di padang kurusetra

ia diumpankan raja ke medan laga

terhenyaklah saat terkabar berita

anak hasil perzinahannya dengan satwa

telah gugur mendahului di depan sana

 

Ulama Durna bagai kehilangan seluruh belulangnya

ia menunduk di atas tanah

riwayatnya pun berakhir sudah

kepalanya terpenggal karena terpedaya

menebus karmanya saat baratayuda

 

                                         Desember 2020

 

Kritik dan Esai Puisi “Ulama Durna Ngesot ke Istana”

Puisi diatas tersebut merupakan salah satu buah karya dari M. Shoim Anwar yang lahir di dusun Sambong, Kabupaten Jombang dan beliau ini berprofesi sebagai dosen dan sastrawan ternama dengan ratusan-ratusan karya yang cukup fenomenal tentunya. karya-karya yang dihasilkan tersebut antara lain cerpen, novel, essai, dan puisi-puisi.

Menurut Waluyo (2002:25) ″Puisi adalah suatu bentuk karya sastra yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penyair secara imajinatif dan disusun dengan mengkonsentrasikan semua kekuatan bahasa dengan pengkonsentrasian struktur fisik dan struktur batinnya″.

Resi Durhana mengalami sebuah perselisihan dengan Prabu Drupada dan Resi Durhana tersebut ditolong oleh Sangkuni yang mana Sangkuni tersebut menerima dia diistana Hastinapura dan menjadi Pandawa dan Kurawa yang hal tersebut dapat dijelaskan didalam bait puisi sebagai berikut ini.

ketika Ulama Durna ngesot ke istana

menyerahkan marwah yang dulu diembannya

Sengkuni dan para pengikutnya di luar sana

 

bertingkah sok gagah berlindung di ketiak penguasa

Pada masa Perang Baratayuda, Resi Durna diangkat menjadi Senapati Kurawa untuk menggantikan almarhum Bisma, namun ketika mengetahui bahwa putranya Awatama ada di Saat tewas di medan perang, Ress Durna merasa putus asa, dan pada akhirnya Ress Durna bisa dikalahkan oleh yang Pandaren. Kalaupun kematian Aswatama adalah sebuah kebohongan, itu adalah sarana Pandawa untuk mengalahkan Resi Durna. Konon Yudistira Pandawa pertama yang tidak pernah berdusta menyampaikan pesan ini: Aswatama sudah mati, maka Resi Durna mempercayai hal ini, sehingga Resi Durna bisa dikalahkan oleh Pandawa. Ini dijelaskan dalam puisi di bagian sebelumnya, seperti yang ditunjukkan di bawah ini.

Lihatlah

ketika Ulama Durna ngesot ke istana

pada akhir perebutan tahta di padang kurusetra

ia diumpankan raja ke medan laga

terhenyaklah saat terkabar berita

anak hasil perzinahannya dengan satwa

telah gugur mendahului di depan sana

Ulama Durna bagai kehilangan seluruh belulangnya

ia menunduk di atas tanah

riwayatnya pun berakhir sudah

kepalanya terpenggal karena terpedaya

menebus karmanya saat baratayuda

 

Makna puisi ini adalah orang-orang yang melakukan yang terbaik untuk bertahan hidup. bait pertama syair di atas berarti bahwa kalaupun seseorang melakukan sesuatu, kekuasaan menjadi segalanya, termasuk merendahkan martabat seseorang untuk mendekati kekuasaan  agar bisa bertahan hidup. Bait pertama puisi ini adalah sebagai berikut.

 

Lihatlah

sebuah panggung di negeri sandiwara

ketika ada Ulama Durna ngesot ke istana

menjilat pantat raja agar diberi jatah remah-remah

maka kekuasaan menjadi sangat pongah

 

memesan potongan-potongan ayat untuk diplintir sekenanya

agar segala tingkah polah dianggap absah

 

Pada bagian kedua memiliki arti yang sama dengan bagian pertama, yaitu seseorang yang ingin bertahan hidup bersedia menyerahkan harga diri atau  kehormatannya kepada yang berkuasa, meskipun kualitas orang-orang tersebut rendah, karena kekuasaan adalah segala sesuatu.

Bait kedua dari puisi di atas adalah sebagai berikut.

Lihatlah

ketika Ulama Durna ngesot ke istana

menyerahkan marwah yang dulu diembannya

Sengkuni dan para pengikutnya di luar sana

bertingkah sok gagah berlindung di ketiak penguasa

menunggang banteng bermata merah

mengacungkan arit sebagai senjata

memukulkan palu memvonis orang-orang ke penjara

Pada bait ketiga, ini berarti bahwa orang yang bekerja keras akan dimanfaatkan oleh

mereka yang memperebutkan kekuasaan, terlepas dari kerusakan yang ditimbulkan atau  korbannya yang terjatuh.

Lihatlah

ketika Ulama Durna berdagang mantra berbusa-busa

adakah ia hendak menyulut api baratayuda

para pengikutnya mabuk ke lembah-lembah

tatanan yang dulu dicipta oleh para pemula

porak poranda dijajah tipu daya

oh tahta dunia yang fana

para begundal mengaku dewa-dewa

sambil menuding ke arah kawula

seakan isi dunia hendak diuntal mentah-mentah

 

Pada bagian keempat memiliki arti setelah semua operasi selesai,

 

tetapi hasilnya tidak sesuai dengan keinginan, bahkan termasuk kerugian yang diderita,  sehingga setelah semua ini, Anda akan merasa menyesal.

Lihatlah

ketika Ulama Durna ngesot ke istana

pada akhir perebutan tahta di padang kurusetra

ia diumpankan raja ke medan laga

terhenyaklah saat terkabar berita

anak hasil perzinahannya dengan satwa

telah gugur mendahului di depan sana

Ulama Durna bagai kehilangan seluruh belulangnya

ia menunduk di atas tanah

riwayatnya pun berakhir sudah

kepalanya terpenggal karena terpedaya

menebus karmanya saat baratayuda

 

Friday, 12 March 2021

DURSASANA PELIHARAAN ISTANA Karya M. Shoim Anwar

 DURSASANA PELIHARAAN ISTANA

Karya M. Shoim Anwar



Dursasana adalah durjana peliharaan istana

tingkahnya tak mengenal sendi-sendi susila

saat masalah menggelayuti tubuh negara   

cara terhormat untuk mengurai tak ditemukan jua

suara  para kawula melesat-lesat bak anak panah 

suasana kelam  bisa  meruntuhkan penguasa

jalan pintas pun digelindingkan roda-roda gila

dursasana  diselundupkan untuk memperkeruh suasana

kayak jaka tingkir menyulut kerbau agar menebar amarah

atau melempar sarang lebah agar penghuninya tak terima  

lalu istana punya alasan menangkapi mereka

akal-akalan purba yang telanjang menggurita

saat panji-panji negara menjadi slogan semata

para ulama  yang bersila di samping raja

menjadi penjilat pantat yang paling setia     

sambil memamerkan para pengikut yang dicocok hidungnya 


 Lihatlah  dursasana

di depan raja dan pejabat istana

lagak polahnya seperti paling gagah

seakan hulubalang paling digdaya

memamerkan segala kebengalannya

mulut lebar berbusa-busa

bau busuk berlompatan ke udara

tak bisa berdiri  tenang atau bersila sahaja  

seperti ada kalajengking mengeram di pantatnya   

meracau mengumbar kata-kata

raja manggut-manggut melihat dursasana

teringat ulahnya saat menistakan wanita

pada perjudian mencurangi  tahta

sambil berpikir memberi tugas selanjutnya


Apa gunanya raja dan pejabat istana

jika menggunakan jasa dursasana untuk menghina

merendahkan martabat para anutan kawula

menista agama dan keyakinan para jamaah   

dursasana dibayar  dari  pajak kawula dan utang negara

akal sehat   tersesat di selokan belantara   

otaknya jadi sebatas di siku paha

digantikan syahwat kuasa menyala-nyala  

melupa sumpah yang pernah diujarnya  

para penjilat berpesta pora

menyesapi cucuran keringat para kawula   


Apa gunanya raja dan pejabat istana

jika tak mampu menjaga citra negara

menyewa dursasana untuk menenggelamkan kawula 

memotong lidah dan menyurukkan ke jeruji penjara

berlagak seperti tak tahu apa-apa

menyembunyikan tangan usai melempar bara

ketika angkara ditebar dursasana

dibiarkan jadi  gerakan bawah tanah  

tak tersentuh hukum  karna berlindung di ketiak istana


Dursasana yang jumawa

di babak  akhir baratayuda

masih juga hendak membunuh bayi tak berdosa

lalu pada wanita yang pernah dinista kehormatannya

ditelanjangi dari kain penutup tubuh terhormatnya

ingatlah, sang putra memendam luka membara

dia bersumpah akan memenggal leher dursasana hingga patah

mencucup darahnya hingga terhisap sempurna    

lalu  si ibu yang tlah dinista martabatnya 

hari itu melunasi janjinya:  keramas  dengan darah dursasana

                                                                            Surabaya, 2021


Puisi diatas tersebut merupakan salah satu buah karya dari M. Shoim Anwar yang lahir di dusun Sambong, Kabupaten Jombang dan beliau ini berprofesi sebagai dosen dan sastrawan ternama dengan ratusan-ratusan karya yang cukup fenomenal tentunya. karya-karya yang dihasilkan tersebut antara lain cerpen, novel, essai, dan puisi-puisi.

Menurut Waluyo (2002:25) ″Puisi adalah suatu bentuk karya sastra yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penyair secara imajinatif dan disusun dengan mengkonsentrasikan semua kekuatan bahasa dengan pengkonsentrasian struktur fisik dan struktur batinnya″.

Dursasana atau Duhsasana adalah kebalikan dari wiracarita Mahabharata. Ia adalah adik dari Duryodhana, pemimpin Korawa, putra Raja Drestarasta dan Dewi Gandari. Dia disebut "Kaurava" dan merupakan yang kedua dari seratus Kurawa. Karakter ini memainkan peran penting dalam "Sabahawa" (buku kedua dari "Mab Bharata"), yang menceritakan permainan dadu antara lima Pandawa dan seratus Kolava. Istri Pandaren, Dropadi, mengambil resiko dalam permainan tersebut dan menjadi budak Korawa. Dursasana merasa seperti pemilik budak, mencoba melepas secara paksa pakaian Dropadi, tetapi tidak berhasil karena bantuan Kresna. Kejadian ini meningkatkan kebenciannya pada Pima. Akhirnya dia dibunuh oleh Bima dalam perang di Kurukshetra pada hari ke-16.

Dursasana adalah durjana peliharaan istana

tingkahnya tak mengenal sendi-sendi susila

Hal ini sesuai dengan cerita dalam "MahaBharata", yaitu Dursasana adalah orang yang kasar, sombong, tidak sopan, dan tidak bisa diatur. Dursasana adalah simbol kejahatan. Gambaran Dursasana dalam cerita Mahabharata pernah menodai seorang perempuan Drupadi. Dursasana dengan paksa menarik Drupadiana menuju area permainan catur, kemudian melepas pakaian Drupadi di depan banyak orang. Pandawa adalah suami dari Dramadup, karena kejadian ini, Drupadi pun bersumpah untuk menunggu sampai setelah keramas dengan darah Dursasana sebelum mengikat rambutnya. Di akhir perang Baratayudha, Dursasana dibunuh oleh Bima Pandawa kedua dengan mengganggu Dursasana. Kemudian menyerahkan darah Dursasana kepada Drupadi untuk diambil sumpah keramas dengan darah Dursasana.

Dursasana yang jumawa

di babak  akhir baratayuda

masih juga hendak membunuh bayi tak berdosa

lalu pada wanita yang pernah dinista kehormatannya

ditelanjangi dari kain penutup tubuh terhormatnya

ingatlah, sang putra memendam luka membara

dia bersumpah akan memenggal leher dursasana hingga patah

mencucup darahnya hingga terhisap sempurna    

lalu  si ibu yang tlah dinista martabatnya 

hari itu melunasi janjinya:  keramas  dengan darah dursasana

Dalam kehidupan seperti saat ini, bahwa puisi tersebut memiliki sebuah makna yang mana manusia tersebut memiliki kekuasaan untuk memiliki kuasa mereka demi kepentingan pribadi diatas golongan serta berbuat semena-mena. disaat orang tersebut yang memiliki sebuah kepentingan yang sebenarnya tersebut dapat merugikan masyarakat yang ada. masyarakat juga mulai berpendapat dan orang orang yang berkepentingan tersebut itu justru menghalalkan segala cara untuk melakukan yang terbaik


sumber referensi :

https://www.matrapendidikan.com/2016/11/pengertian-puisi-menurut-para-ahli.html#:~:text=Menurut%20Waluyo%20(2002%3A25),struktur%20fisik%20dan%20struktur%20batinnya%E2%80%B3.

https://id.wikipedia.org/wiki/Dursasana




 

Dalbo

-Muhammad Bagus Bagaskoro Angkasa-

 

    Hai perkenalkan nama asli ku adalah Shafira dan dalbo itu adalah nama julukan orang-orang banyak yang mana aku itu orang yang berbadang gemuk memang aku sudah gemuk dari kecil dan aku dikenal sebagai anak periang umurku 16 Tahun dan aku seorang pelajar kelas 2 SMA di sebuah Sekolah Alam di Surabaya,aku pula merupakan anak satu-satunya dari papa dan mama ku dan mereka sangat sayang sekali kepada ku aku mempunyai banyak hobi seperti bermain piano,bernyanyi,masak,bermain dengan boneka dan dari beberapa hobi ku memang agak sedikit orang yang tak mendukung aku dikarenakan hobi ku seperti memasak aku serius hobi masak ku itu sudah sejak kelas 4 SD dimana orang yang pertama kali yang mengajarkan aku memasak adalah Mbak Ina dan Mbak Ina sendiri merupakan asisten di rumah ku yang membantu pekerjaan Mama ku dan Mamaku tak mungkin bisa bekerja sendiri tanpa bantuan dari Mbak Ina.kehidupanku sebagai anak tunggal itu membuatku menjadi anak yang manja karena orang tua ku memberi banyak fasilitas apapun kepada aku dan aku juga dikenal pula sebagai anak nangisan.aku anak yang polos tak tahu bagaimana dunia luar itu kejam.

      Ketika aku masih kecil aku hingga sekarang aku suka sekali mengunjungi sebuah restoran cepat saji.tak tahu apa yang membuatku tertarik untuk mengunjungi restoran cepat saji tersebut karena aku suka mengumpulkan dan mengoleksi mainan-mainan yang ada dalam paketan makanan tersebut dan kebiasaan tersebut hingga sekarang masih menjadi kebiasaan ku dan terkadang jika kedua orang tua ku tidak menuruti apa yang menjadi keinginanku aku pasti marah dan menangis dan aku pula sering membeli burger 3-4 porsi dan kumakan sekaligus itu demi kepuasan ku semata tetapi hal itu sebenarnya tidak baik kata orang-orang disekitarku.

“Shafa cantik,jangan makan banyak-banyak yaa?” kata papa

“lho mengapa papa kok nggak boleh?” aku bertanya ulang kepada papa

    Terkadang nasihat papa ku tersebut membuatku sangat penasaran dan kesal,aku juga tahu bahwa papa ku sekarang sudah mulai terkena penyakit gula darah.dan kondisi tersebut membuat papa ku benar-benar menasehatiku agar aku tidak seperti papaku.

     Hal-hal yang membuat kehidupanku merasa kesepian karena aku dirumah tidak mempunyai kawan bermain maka dari itu semenjak aku masih balita aku dibelikan banyak boneka oleh orang tuaku dan boneka-boneka tersebut salah satu hiburanku di dalam rumah dan itu sudah menjadi dunia ku dan ketika usia ku semakin bertambah hal itu membuat mama ku berpikir berulang-ulang kali karena dunia ku dalam beberapa tahun kebelakang karena hal itu membuatku susah bersosialisasi dengan dunia luar dan aku memang anak yang memiliki jiwa kurang bersosialisasi tetapi aku harus banyak belajar agar aku bisa mengetahui apa yang ada diluar sana.tetapi pada awalnya aku mengalami kesulitan tetapi aku sekarang sudah bisa bersosialisasi dengan dunia luar walaupun aku harus sering dipantau oleh orang tuaku.mengapa aku harus sering dipantau karena orang tuaku khawatir dengan diriku sebagai anak perempuan dan merupakan anak satu-satunya dan hal itu juga mejadi banyak pertanyaan orang-orang.

     “Shaf apakah kamu tidak mau mempunyai adik lagi untuk menemani mu bermain?”tanya banyak orang-orang yang ada.

      Dan terkadang pertanyaan-pertanyaan tersebut membuat aku bingung untuk mencari jawaban karena aku masih belum dikatakan anak yang dewasa karena sifat-sifatku yang masih kekanak-kanakan.

      Aku pula juga bertanya kepada mama ku dan pertanyaan itu sempat ku pertanyakan ketika aku masih kelas 3 SD.

    “ma,aku kepingin banget punya adik mama?”pertanyaanku kepada mamaku.

    “shafira….sayang…..yang sabar yaa…karena semua itu kehendak Allah jadi yang sabar yaa.shafa sayang…” jawaban dari mamaku yang mana aku masih sangat bingung sekali

     “mama,kalau shafira punya adik nanti itu nanti gimana?” aku seolah-olah ingin bertanya terus-terusan kepada mamaku.

      “jika shafira nanti mempunyai adik shafira nanti bisa bertanggung jawab dalam menjaga adiknya terus shafira juga nanti punya teman bermain dan tidak kesepian.” Jawaban dari mama

     Dan hal itu membuatku semakin bingung sekali dan aku tidak bisa merubah skenario dan takdir dari yang Maha Kuasa yaitu Allah SWT dan aku sebagai umat hanyalah menyerahkan semua ini kepada yang diatas.

     Tetapi aku sebagai anak tunggal merasa tidak ada beban karena aku bisa mendapatkan fasilitas yang aku inginkan jika aku mempunyai adik atau kakak pastilah akan berujung pada iri hati karena aku banyak cerita dari kawan-kawanku yang mempunyai mainan atau barang yang berbeda pasti nanti akan berujung pada iri hati dan pada akhirnya aka nada pertengkaran maupun perkelahian.

    Tetapi tidak seperti itu juga aku mendapatkan semua fasilitas dengan mudah dan aku harus bisa menunjukkan yang terbaik kepada papa dan mama ku seperti apa bentuknya diantaranya yaitu jika aku mendapatkan nilai terbaik dan rangking kelas akan mendapatkan penghargaan tetapi di sekolahku tidak menerapkan hal itu bahwa sekolahku tidak mengutamakan nilai akhir tetapi proses siswa selama di dalam kelas.

Aku juga memiliki potensi-potensi yang sangat di dukung oleh orang tuaku dan aku dahulu sempat diikutkan ballet tetapi banyak orang mengolok-olok aku

    “shaf memang kamu bisa ikut ballet”

    “bisa kok……………..”

    “hah…………kok bisa sih”

    “mengapa kamu bertanya seperti gitu padaku?”

    “karena kamu itu badannya gendut,emang anak gendut bisa ballet tah,ballet susah lho?

   “ya nggak papa sih,kalau semua bisa dilakukan mengapa tidak.”

    Aku memang dahulu sempat dikucilkan oleh teman-teman ku pada TK dan SD karena sifat ku yang seperti anak mama,memang dahulu aku suka nangisan terkadang jika tidak ada apa-apa aku mesti menangis tidak jelas dan terkadang sifat itu masih terbawa ketika aku SMA jika aku ditimpa masalah hal yang aku bisa lakukan hanya menangis dan menangis saja.

     Dan mengapa orang-orang banyak memanggil aku dalbo? Karena aku anak gendut yang seperti boneka dan terkadang aku sering digodain banyak orang,selain itu orang-orang memanggil aku dalbo karena aku seperti tuyul yang suka makan banyak memang aku suka makan banyak jadi orang banyak memanggil aku dengan julukan dalbo.

“aku heran banget sama orang-orang seperti itu ?’’

     Aku terkadang disekolah lebih enak dan asyik dengan dunia ku sendiri dan hal ini seperti yang aku rasakan dirumah dengan bermain boneka-boneka ku semenjak aku lahir dan tetapi papa ku pernah mengatakan bahwa boneka itu haram dalam Islam dan kakek ku juga bilang kayak gitu tetapi aku tidak bisa mengungkapkan hal itu yang hanya bisa aku ungkapkan adalah menangis dan menangis saja.

     Pada suatu hari papa ku menginginkan untuk memasukkan boneka itu ke dalam kardus tetapi aku menangis terus karena boneka-boneka yang ada itu memiliki nilai sejarah dalam hidupku.dan aku juga mempunyai koleksi-koleksi mainan lainnya dan papa ku menyediakan satu tempat di rumah ku dan posisi tempat ini disebelah kamar tidur ku dan itu juga sempat menjadi permasalahan besar dalam keluargaku karena membuatku tidak bisa bersosialisasi dengan dunia luar dan aku cenderung bahwa aku mempunyai dunia sendiri.

     Dan hal itu juga menjadi kelanjutan perilaku ku disekolah justru aku kadang suka menyendiri ketika aku jam istirahat dan pada suatu ketika ada seorang kakak kelas ku tapi dia anak SMA yang mana dia terkadang juga bermain dengan teman-temannya dan aku berusaha mendekati mereka dengan senang hati dan mereka juga sangat baik menerimaku apa adanya.

    “hallo,mengapa kamu sendirian toh?”

    “aku lebih suka menyendiri kak”

    “mengapa seperti begitu.”

   “ayolah berusaha dekatin temanmu”

   “banyak teman-temanku yang menggoda aku kak,karena dengan kelucuan ku ini yaa?”

   “oh ya sih kan kamu gendut”

   Dan salah satu dari mereka itu memanggil aku dalbo karena salah satu dari kakak kelas ku pada satu hari bercerita dengan teman-teman kuliah nya kalau aku pada malam hari itu pergi ke restoran cepat saji dan makan burger 4 porsi dan ayam 2 porsi,seperti itu fakta-fakta yang ada pada diriku tersebut dan aku tidak hanya makan cepat habis di restoran cepat saji saja,tetapi ditempat-tempat lain aku juga seperti begitu pada suatu hari pula aku pernah diajak makan malam oleh orang tuaku di Pedagang Kaki Lima (PKL) membeli tahu tek-tek pada saat itu aku adalah orang yang berhasil mencapai rekor terbaik karena aku bisa menghabiskan 4 porsi tahu tek-tek dengan lahap sedangkan orang tua ku masing-masing menghabiskan 1 porsi saja,memang banyak orang yang mengatakan bahwa perut aku ini adalah perut gentong,perut karet,perut tangki,dan perut-perut lainnya yang tak bisa disebutkan.

    Mengapa hal itu bisa terjadi karena waktu itu aku sempat marah besar dengan mama ku karena keinginan ku tidak dikabulkan jadi hal itu merupakan pelampiasan-pelampiasan yang bisa ku lakukan dan ku lakukan pula dan terkadang aku bisa ngambek dan menangis didalam kamar.

     Kamar tidur sendiri adalah sebuah tempat ternyaman bagiku karena disitu aku bisa melepaskan semua-semua pikiran-pikiran ku dan sekaligus tempat ku bermain sehari-hari.

     Memang fisik ku ini gemuk tetapi aku juga bisa memiliki prestasi dibidang akademik juga seperti aku selalu diurutan rangking 10 keatas dari jumlah dikelasku tersebut

 

10.00

-Muhammad Bagus Bagaskoro Angkasa-

 

Detak jantung berdebar

Bunyi jam berdentang

Waktu demi waktu

Telah berjalan

10.00……..10.00….

Waktu dimana

Aku harus bersiap

Untuk meraih masa depan

Pada 10.00

Waktu dimana

Pagi menjelang siang

Terik panas diujung ufuk

10.00

Aku melihat itu

Angka keberuntungan

Angka keindahan

10.00

Waktu dimana memori

Canda

Tawa

Ceria bersatu…..

10.00

Akan menjadi waktu

Angka

Dan kenangan manis

 

 

PERPISAHAN

-MUHAMMAD BAGUS BAGASKORO ANGKASA-

 

Di kala ada pertemuan

Pasti ada perpisahan

Pasti akan rindu

Pada masa-masa

Masa di kala canda

Di kala suka

Di kala duka

Semua akan mengalami

Dimana memori-memori

Bersama kita lalui bersama

Hari demi hari

Waktu demi waktu

Minggu demi minggu

Bulan demi bulan

Tahun demi tahun

Kita lalui bersama

Di masa-masa ini

Semua memori akan terekam

Yang mana hal ini

Tak dapat di beli

 

Oleh uang atau harta

Selamat berpisah kawan

Semoga kau sukses di sana

Jangan lupakan masa indahmu

 

Bawalah cerita hidup barumu

Kepada kawan lamamu

Demi mempererat hubungan lamamu

Yang telah dilalui dimasa dahulu

Kritik dan Essai 5 Cerpen M. Shoim Anwar

  Kritik dan Essai 5 Cerpen M. Shoim Anwar              M. Shoim Anwar yang lahir di dusun Sambong, Kabupaten Jombang dan beliau ini ber...