Sunday, 30 May 2021

Kritik dan Esai Puisi Agus R. Sarjono

 Puisi Agus R. Sarjono

              Sajak Palsu

Selamat pagi pak, selamat pagi bu, ucap anak sekolah
dengan sapaan palsu. Lalu merekapun belajar
sejarah palsu dari buku-buku palsu. Di  akhir sekolah
mereka terperangah melihat hamparan nilai mereka
yang palsu. Karena tak cukup nilai, maka berdatanganlah
mereka ke rumah-rumah bapak dan ibu guru
untuk menyerahkan amplop berisi perhatian
dan rasa hormat palsu. Sambil tersipu palsu
dan membuat tolakan-tolakan palsu, akhirnya pak guru
dan bu guru terima juga amplop itu sambil berjanji palsu
untuk mengubah nilai-nilai palsu dengan
nilai-nilai palsu yang baru. Masa sekolah
demi masa sekolah berlalu, merekapun lahir
sebagai ekonom-ekonom palsu, ahli hukum palsu,
ahli pertanian palsu, insinyur palsu.
Sebagian menjadi guru, ilmuwan
atau seniman palsu. Dengan gairah tinggi
mereka  menghambur ke tengah pembangunan palsu
dengan ekonomi palsu sebagai panglima
palsu. Mereka saksikan
ramainya perniagaan palsu dengan ekspor
dan impor palsu yang mengirim dan mendatangkan
berbagai barang kelontong kualitas palsu.
Dan bank-bank palsu dengan giat menawarkan bonus
dan hadiah-hadiah palsu tapi diam-diam meminjam juga
pinjaman dengan ijin dan surat palsu kepada bank negeri
yang dijaga pejabat-pejabat palsu. Masyarakatpun berniaga
dengan uang palsu yang dijamin devisa palsu. Maka
uang-uang asing menggertak dengan kurs palsu
sehingga semua blingsatan dan terperosok krisis
yang meruntuhkan pemerintahan palsu ke dalam
nasib buruk palsu. Lalu orang-orang palsu
meneriakkan kegembiraan palsu dan mendebatkan
gagasan-gagasan palsu di tengah seminar
dan dialog-dialog palsu menyambut tibanya
demokrasi palsu yang berkibar-kibar begitu nyaring
dan palsu.

1998

Kritik dan Esai Puisi Idul Fitri Sutardji Calzoum Bachri

Agus R. Sarjono dikenal sebagai penyair, cerpenis, dan esais. Ia lahir di Bandung, 27 Juli 1962. Agus R. Sarjono bersama istri dan dua anaknya kini tinggal di kawasan Cimanggis, Depok, Jawa Barat.

Pendidikan formalnya diselesaikan di IKIP Bandung (S1) pada studi Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia; dan Kajian Sastra, Fakultas Ilmu Budaya, UI untuk S-2-nya.Semasa mahasiswa ia aktif di Unit Pers Mahasiswa IKIP Bandung sebagai ketua (1987-1989).

Agus adalah salah seorang Ketua DPH Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) periode 2003-2006. Sebelumnya ia adalah Ketua Komite Sastra DKJ periode 1998-2001. Sehari-hari, ia bekerja sebagai pengajar di Jurusan Teater Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung serta menjadi redaktur majalah Sastra Horison.

Selain menjadi editor sejumlah buku antara lain: Saini KMPuisi dan Beberapa Masalahnya (1993);Catatan Seni (1996); Kapita Selekta Teater (1996); Pembebasan Budaya-Budaya Kita (1999); Dari Fansuri ke Handayani (2001); Horison Sastra Indonesia (2002); Horison Esai (2003); Malam Sutera: Sitor Situmorang (2004); Teater Tanpa Masa Silam: Arifin C. Noer (2005); Poetry and Sincerity(2006), Agus R. Sarjono juga menulis beberapa cerita pendek.

Agus R. Sarjono kerap menulis puisi, cerpen, dan esai. Karyanya dimuat berbagai koran, majalah, dan jurnal terkemuka di Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam.


Dalam puisi ini memiliki makna yaitu menggambarkan sebuah kebohongan terhadap perilaku yang tidak jujur terhadap semua hal yang terjadi didalam masyarakat. Guru yang penuh kebohongan melahirkan siswa yang pandai menipu hal ini. Penyair menggunakan kata / pilihan kata yang mudah dipahami. Bentuk puisi lebih mirip prosa. Bukan bagian yang terpisah. Subjek puisi ini adalah kebohongan yang mengakar kuat di negeri ini. Penyair lugas dan tegas dalam ekspresinya, ironis dan mengingatkan tujuan pembohong. Ketika seseorang memutuskan untuk menjadi seorang guru, apakah mereka menyadari bahwa mereka juga akan menentukan masa depan orang lain? Bukankah menentukan masa depan adalah hal terpenting dalam hidup? Tujuan yang benar harus dicapai melalui cara yang benar. Hanya satu hal yang tidak jelas tujuan membuat pilihan hidup menjadi seorang guru. Mencapai tujuan hidup dengan tidak jujur ​​adalah masalah lain. Jika keduanya terjadi pada saat bersamaan, kerusakan selesai. Sayangnya, virus perusak itu bisa menyebar ke pelajar dan orang lain.


Sunday, 23 May 2021

Kritik dan Esai Puisi Puisi Wiji Thukul

 

Kritik dan Esai Puisi Puisi Wiji Thukul 

 

Peringatan

Jika rakyat pergi

Ketika penguasa pidato

Kita harus hati-hati

Barangkali mereka putus asa

Kalau rakyat bersembunyi

Dan berbisik-bisik

Ketika membicarakan masalahnya sendiri

Penguasa harus waspada dan belajar mendengar

Bila rakyat berani mengeluh

Itu artinya sudah gasat

Dan bila omongan penguasa

Tidak boleh dibantah

Kebenaran pasti terancam

Apabila usul ditolak tanpa ditimbang

Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan

Dituduh subversif dan mengganggu keamanan

Maka hanya ada satu kata: lawan!

 

Biografi Wiji Thukul

Widji Thukul, yang bernama asli Widji Widodo adalah sastrawan dan aktivis hak asasi manusia berkebangsaan Indonesia. Thukul merupakan salah satu tokoh yang ikut melawan penindasan rezim Orde Baru. Sejak 1998 sampai sekarang dia tidak diketahui keberadaannya, dinyatakan hilang dengan dugaan diculik oleh militer. Semenjak bulan Juli 1996, Thukul sudah berpindah-pindah keluar masuk daerah dari kota satu ke kota yang lain untuk bersembunyi dari kejaran aparat. Dalam pelariannya itu Thukul tetap menulis puisi-puisi pro-demokrasi yang salah satu di antaranya berjudul Para Jendral Marah-Marah. Pada tahun 2000, Sipon melaporkan hilangnya Thukul pada KONTRAS (Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan), namun Thukul belum ditemukan hingga kini. Ada tiga sajak Thukul yang populer dan menjadi sajak wajib dalam aksi-aksi massa, yaitu Peringatan, Sajak Suara, serta Bunga dan Tembok (ketiganya ada dalam antologi "Mencari Tanah Lapang" yang diterbitkan oleh Manus Amici, Belanda, pada 1994. Tapi, sesungguhnya antologi tersebut diterbitkan oleh kerjasama KITLV dan penerbit Hasta Mitra, Jakarta. Nama penerbit fiktif Manus Amici digunakan untuk menghindar dari pelarangan pemerintah Orde Baru.

Kritik dan Esai Puisi Peringatan Karya Wiji Thukul

Makna dalam puisi yang berjudul peringatan tersebut dapat dimaknai bahwa ini sebagai kritik atau peringata kepada seorang pemimpin/penguasa yang otoriter dan kejam terhadap rakyatnya tersebut dimana masyarakat ingin mengkritik penguasa tersebut tidak bisa. Selain itu masyarakat juga putus asa untuk mengkritik pimpinan yang otoriter tersebut yang mana jika masyarakat tersebut mengkritik pemimpinnya tersebut ada yang diancam penjara, dihilangkan, dieksekusi, bahkan dihukum mati. Sang pembuat puisi ini juga dihilangkan oleh Pak Harto yang mana pada masa itu jika mengkritik pimpinan tersebut akan mendapatkan sebuah ancaman dan disinilah rakyat juga tidak suka dengan rezim yang diterapkan oleh pemimpin otoriter tersebut. Hal yang bisa dilakukan masyarakat tersebut hanyalah membicarakan hal tersebut secara diam-diam saja dan ini merupakan cara-cara mereka dalam mengkritik penguasa dan tidak ada cara lain yang bisa mereka lakukan jika kuasanya tidak benar dan yang bisa dilakukan hanya turun ke jalan untuk menyuarakan aspirasi tersebut dan dalam puisi ini seorang pemimpin tersebut harus mengayomi terhadap rakyatnya dan dicintai oleh rakyatnya pula jika tidak mau dikritik oleh rakyat.

 

 

Di Bawah Selimut Kedamaian Palsu

Apa guna punya ilmu

Kalau hanya untuk mengibuli

Apa gunanya banyak baca buku

Kalau mulut kau bungkam melulu

Di mana-mana moncong senjata

Berdiri gagah

Kongkalikong

Dengan kaum cukong

Di desa-desa

Rakyat dipaksa

Menjual tanah

Tapi, tapi, tapi, tapi

Dengan harga murah

Apa guna banyak baca buku

Kalau mulut kau bungkam melulu

Kritik dan Esai Puisi Di Bawah Selimut Kedamaian Palsu Karya Wiji Thukul

Makna dalam puisi yang berjudul Di Bawah Selimut Kedamaian Palsu tersebut dimaknai sebagai siapapun yang berdiri untuk mengkritik otoritas tersebut yang mendapatkan balasan berupa tondongan senjata, hidup dimasyarakat tersebut akan kalah dengan pihak otoritas dan mengancam serta menindas rakyat yang lemah  

Saturday, 15 May 2021

Kritik dan Esai Puisi Idul Fitri Sutardji Calzoum Bachri

 


 Idul Fitri

Puisi  Sutadji Calzoum Bachri

 

Lihat

Pedang tobat ini menebas-nebas hati

dari masa lampau yang lalai dan sia

Telah kulaksanakan puasa ramadhanku,

telah kutegakkan shalat malam

telah kuuntaikan wirid tiap malam dan siang

Telah kuhamparkan sajadah

Yang tak hanya nuju Ka’bah

tapi ikhlas mencapai hati dan darah

Dan di malam-malam Lailatul Qadar akupun menunggu

Namun tak bersua Jibril atau malaikat lainnya

Maka aku girang-girangkan hatiku

Aku bilang:

Tardji rindu yang kau wudhukkan setiap malam

Belumlah cukup untuk menggerakkan Dia datang

Namun si bandel Tardji ini sekali merindu

Takkan pernah melupa

Takkan kulupa janji-Nya

Bagi yang merindu insya Allah ka nada mustajab Cinta

Maka walau tak jumpa denganNya

Shalat dan zikir yang telah membasuh jiwaku ini

Semakin mendekatkan aku padaNya

Dan semakin dekat

semakin terasa kesia-siaan pada usia lama yang lalai berlupa

O lihat Tuhan, kini si bekas pemabuk ini

ngebut

di jalan lurus

Jangan Kau depakkan lagi aku ke trotoir

tempat usia lalaiku menenggak arak di warung dunia

Kini biarkan aku meneggak marak CahayaMu

di ujung sisa usia

O usia lalai yang berkepanjangan

Yang menyebabkan aku kini ngebut di jalan lurus

Tuhan jangan Kau depakkan aku lagi ke trotoir

tempat aku dulu menenggak arak di warung dunia

Maka pagi ini

Kukenakan zirah la ilaha illAllah

aku pakai sepatu sirathal mustaqim

aku pun lurus menuju lapangan tempat shalat Id

Aku bawa masjid dalam diriku

Kuhamparkan di lapangan

Kutegakkan shalat

Dan kurayakan kelahiran kembali

di sana

 

Kritik dan Esai Puisi Idul Fitri Sutardji Calzoum Bachri

Sutardji Calzoum Bachri lahir di Rengat, Indragiri Hulu, 24 Juni 1941 adalah sastrawan Indonesia. Setelah lulus SMA Sutardji Calzoum Bachri melanjutkan studinya ke Fakultas Sosial Politik Jurusan Administrasi Negara, Universitas Padjadjaran, Bandung. Pada mulanya Sutardji Calzoum Bachri mulai menulis dalam surat kabar dan mingguan di Bandung, kemudian sajak-sajaknyai dimuat dalam majalah Horison dan Budaya Jaya serta ruang kebudayaan Sinar Harapan dan Berita Buana. Ia pernah menjadi redaktur rubrik budaya "Bentara" di Kompas. Selain itu, sejak 1979 ia menjadi redaktur Horison. Pada musim panas 1974, Sutardji Calzoum Bachri mengikuti Poetry Reading International di Rotterdam. Kemudian ia mengikuti seminar International Writing Program di Iowa City, Amerika Serikat dari Oktober 1974 sampai April 1975.

Puisi dengan judul idul fitri ini menggambarkan suasana kental yang akan dengan nuansa hari haya idul fitri yang merupakan hari kemenangan semua umat muslim setelah selama satu bulan memasuki bulan suci Ramadan yang mana pada bulan ini seluruh amalan ibadah yang ada dihitung sebagai pahala yang berlipat-lipat ganda dan keberkahan-keberkahan lainnya.

Lihat

Pedang tobat ini menebas-nebas hati

dari masa lampau yang lalai dan sia

Telah kulaksanakan puasa ramadhanku,

telah kutegakkan shalat malam

telah kuuntaikan wirid tiap malam dan siang

Telah kuhamparkan sajadah

Yang tak hanya nuju Ka’bah

tapi ikhlas mencapai hati dan darah

Dan di malam-malam Lailatul Qadar akupun menunggu

Namun tak bersua Jibril atau malaikat lainnya

Maka aku girang-girangkan hatiku

Dalam larik yang ada diatas tersebut dapat digambarkan bahwa suasana saat bulan Ramadan tiba tersebut semua umat muslim mulai berlomba-lomba dalam melakukan ibadah termasuk ibadah sholat malam dimana sholat malam ini merupakan sebuah komunikasi batin antara sang pencipta serta umatnya karena pada saat itu semua pintu-pintu pengampunan dibuka sangat lebar untuk menghapus dosa-dosa dimasa lalu. Dimana hal yang paling sangat ditunggu oleh para umat muslim yaitu malam Lailatul Qadar yang mana pada malam tersebut lebih baik daripada seribu bulan. Selain itu malam tersebut merupakan malam ketika Nabi Muhammad SAW menerima wahyu pertama Al Quran dari Allah SWT melalui Malaikat Jibril serta satu malam yang merupakan malam dimana para malaikat turun ke bumi untuk memberikan berkah serta kedamaian kepada seluruh umat Islam dari gelap hingga terbit fajar.

Aku bilang:

Tardji rindu yang kau wudhukkan setiap malam

Belumlah cukup untuk menggerakkan Dia datang

Namun si bandel Tardji ini sekali merindu

Takkan pernah melupa

Takkan kulupa janji-Nya

Bagi yang merindu insya Allah ka nada mustajab Cinta

Maka walau tak jumpa denganNya

Shalat dan zikir yang telah membasuh jiwaku ini

Semakin mendekatkan aku padaNya

Dan semakin dekat

semakin terasa kesia-siaan pada usia lama yang lalai berlupa

dalam larik puisi diatas tersebut penulis dapat menggambarkan bahwa seseorang tersebut seseorang yang senantiasa beribadah tiap malam tersebut ia percaya sekali bahwa hidayah dalam shalat dan zikirnya tersebut dapat mendekatkan dia kepada sang pencipta. Selain itu juga kekuatan dari doa-doa yang membuat umatnya tersebut merasa tentram dan tenang.

O lihat Tuhan, kini si bekas pemabuk ini

ngebut

di jalan lurus

Jangan Kau depakkan lagi aku ke trotoir

tempat usia lalaiku menenggak arak di warung dunia

Kini biarkan aku meneggak marak CahayaMu

di ujung sisa usia

O usia lalai yang berkepanjangan

Yang menyebabkan aku kini ngebut di jalan lurus

Tuhan jangan Kau depakkan aku lagi ke trotoir

tempat aku dulu menenggak arak di warung dunia

dalam larik berikut ini memiliki makna dimana seseorang yang ingin bertaubat secara terus menerus dimana seseorang tersebut berusaha untuk bersujud serta meminta ampun kepada allah swt karena orang tersebut hatinya telah tertutup dengan terlena oleh dunia gemerlap yang semu.

Maka pagi ini

Kukenakan zirah la ilaha illAllah

aku pakai sepatu sirathal mustaqim

aku pun lurus menuju lapangan tempat shalat Id

Aku bawa masjid dalam diriku

Kuhamparkan di lapangan

Kutegakkan shalat

Dan kurayakan kelahiran kembali

di sana

dalam larik terakhir puisi ini memiliki gambaran dimana suasana tersebut merupakan Hari Raya Idul Fitri dimana hari tersebut merupakan hari kemenangan serta di hari kemenangan ini semua umat muslim berbondong-bondong menuju ke tempat lapangan/masjid untuk shalat idul fitri dan setelah itu melakukan bermaaf-maafan dan bersilaturahmi serta makan ketupat diman setelah bermaaf-maaf tersebut kita kembali ke fitrah seperti bayi baru lahir.

referensi :

https://id.wikipedia.org/wiki/Sutardji_Calzoum_Bachri 

Friday, 7 May 2021

Kritik dan Esai Puisi Mashuri

 Kritik dan Esai Puisi Mashuri

Puisi 1

Sowan

akhirnya sampai juga aku di tepi danaumu, mencicipi
bening tirta, mencoba menjadi pengail dekil yang tak
berharap dapat menangkap ikan-ikan purwapurna, kerna
miskin teknik, umpan, dan doa. tapi memandang air
danaumu nan tenang adalah pesta sesungguhnya. biarlah
langgam ulam itu tetap berenang dan berterbangan di sana,
menghiasi kedung dan angkasanya, agar netra dan nasab
pengetahuan ini – pencarian ini – masih bersandar pada
ritus murni, tidak berlarat dalam corat-coret luka di dinding
zaman – retak berkah, kelabu, mengambang – seperti
bangkai mina yang kini marak membusuk di jalanan.

Jampes, 2019

Puisi 2

Takdir Daun

aku hanya selembar daun kering, ning, luruh terbawa angin.
bila kini aku merona di pigura yang menempel di dinding
dunia, kerna hidupku berarus di degup jantungmu, kerna
perkenan tanganmu yang sudi memungutku dari bumi
lusuh. lalu apa yang pantas aku balas kepadamu, selain
cinta dan rindu.

Tulungagung, 2019

Puisi 3

Hantu Musim

 

aku hanya musim yang dikirim rebah hutan
kenangan – memungut berbuah, dedaunan, juga
unggas – yang pernah mampir di pinggir semi
semarakkan jamuan, yang kelak kita sebut
pertemuan awal, meski kita tahu, tetap mata
itu tak lebih hanya mengenal kembali peta
lama, yang pernah tergurat berjuta masa

bila aku hujan, itu adalah warta kepada ular
sawah hasratku, yang tergetar oleh percumbuan
yang kelak kita sebut sebagai cinta, entah yang
pertama atau keseribu, kerna di situ, aku mampu
mengenal kembali siku, lingkar, bulat, penuh

di situ, aku panas, sekaligus dingin
sebagaimana unggas yang pernah kita lihat
di telaga, tetapi bayangannya selalu
mengirimkan warna sayu, kelabu
dan kita selalu ingin mengulang-ulangnya
dengan atau tanpa cerita tentang musim
yang terus berganti…

Magelang, 2012

Kritik dan Esai Puisi Karya Mashuri

Puisi di atas merupakan salah satu karya seorang sastrawan yang bernama Mashuri. Mashuri lahir di Lamongan 27 April 1976. Mashuri adalah lulusan dari Universitas Airlangga dan Universitas Gadjah Mada. Mashuri telah banyak menulis puisi, cerpen, esai, novel, naskah drama, sejarah lokal, dan kajian ilmiah. Salah satu hasil karya beliau adalah puisi di atas dengan judul Sowan, Takdir Daun, Jula-Juli Remah Roti, Hantu Musim.

Secara etimologis, puisi berasal dari kata poites (bahasa Yunani), yang artinya membangun, pembuat, atau pembentuk. Sementara itu, dalam bahasa latin istilah ini muncul dari kata poeta, yang bermakna membangun, menimbulkan, menyebabkan,  dan menyair. Selanjutnya, kata tersebut mengalami penyempitan makna menjadi hasil karya seni sastra yang kata-katanya disusun menurut syarat, prinsip atau aturan tertentu dengan menggunakan rima, irama, sajak dan kadang-kadang kata kiasan (Sitomorang, 1980: 10). Pradopo (1995) mengatakan bahwa puisi adalah rekaman dan interpretasi dari berbagai pengalaman manusia yang penting, digubah dalam bentuk atau wujud yang paling berkesan.

Dalam puisi pertama dengan judul sowan tersebut menggambarkan bahwa kehidupan yang ada saat ini bahwa kita sebagai manusia tersebut harus menjalani kejamnya kehidupan yang ada saat ini serta kita harus senantiasa menjadi manusia yang bermanfaat bagi manusia yang lain. Selain itu kita sebagai manusia juga harus memiliki wawasan yang luas karena dengan wawasan luas tersebut kita dapat membangun sebuah kemajuan dalam peradaban ini selain itu pula kemenangan dalam pesta tersebut dapat kita raih dengan prestasi ataupun apresiasi keberhasilan yang dicapai oleh masing-masing individu yang juga merupakan makhluk sosial yang hidup harus berdampingan dan juga butuh bantuan serta bergotong royong dan hidup dalam kerukunan didalam beragama dikarenakan dalam hal tersebut bahwa perbedaan itu sangat indah.

Dalam puisi ke-1 dengan judul “Sowan” ini memiliki makna yaitu pada baris awal-awal dalam bait puisi tersebut yaitu

akhirnya sampai juga aku di tepi danaumu, mencicipi

bening tirta, mencoba menjadi pengail dekil yang tak

berharap dapat menangkap ikan-ikan purwapurna, kerna

miskin teknik, umpan, dan doa.

Yang mana makna tersebut adalah suatu pencapaian dalam memperjuangkan untuk mendapatkan misi kehidupan ini tersebut haruslah butuh sebuah pengorbanan karena dengan pengorbanan tersebut kita bisa belajar sesuatu dari sebelumnya agar kita dapat menjadi orang yang lebih baik kedepannya nanti karena kesuksesan yang kita raih saat ini tersebut merupakan bibit yang kita tanam dimasa lalu yang nantinya akan menjadi buah yang bermanfaat dimasa yang akan datang.

Dalam puisi ke-2 dengan judul “Takdir Daun” tersebut menggambarkan bahwa kehidupan yang ada saat ini tersebut yaitu keminderan seseorang yang sulit untuk mengarungi kejamnya dalam kehidupan yang keras saat ini yang membuat mentalnya tersebut dalam keterpurukan tetapi kita sebagai manusia itu tidak boleh pantang menyerah begitu saja tetapi kita sebagai manusia harus berusaha dan bekerja keras untuk menghasilkan sebuah kebaikan-kebaikan yang mana kebaikan tersebut akan memiliki manfaat yang banyak bagi kemashalat umat serta limpahan pahala untuk ladang amal sholeh kita nantinya serta dari hasil bibit kebaikan yang kita raih tersebut dapat menjadikan suatu balasan kebaikan dikemudian hari jika itu hal kebaikan maka jika sebaliknya tersebut balasan tersebut merupakan hal keburukan maka konsekuensi atau hal yang menjadi balasan tersebut akan datang sendirinya, maka dari itu kita harus berlomba-lomba dalam berbuat kebaikan serta kita dalam hidup juga harus optimis dan percaya diri karena dengan hal itu kita dapat menjadi orang yang lebih baik serta menjadikan hari-hari kita yang setiap hari semakin produktif serta memberikan kontribusi yang terbaik.

Dalam puisi kedua dengan judul “Takdir Daun” ini memiliki makna yaitu pada baris awal-awal dalam bait puisi tersebut yaitu

aku hanya selembar daun kering, ning, luruh terbawa angin.

bila kini aku merona di pigura yang menempel di dinding

dunia,

Yang mana makna tersebut yaitu menunjukkan bahwa kehidupan hari ini perasaan seseorang, sulit baginya untuk mengembara dalam kekejaman kehidupan yang keras saat ini, yang membuatnya dalam keadaan tertekan secara mental, tetapi sebagai manusia, kita tidak bisa begitu saja menyerah, dan sebagai manusia. makhluk, kita harus melakukan yang terbaik dan untuk menghasilkan semacam keramahan

Dalam puisi ketiga dengan judul “Hantu Musim” tersebut menggambarkan bahwa kehidupan yang ada saat ini tersebut kita sebagai manusia haruslah mensyukuri anugerah yang diberikan berupa kekayaan alam dan kondisi sawah yang baik yang haruslah dirawat dengan baik.

Kritik dan Essai 5 Cerpen M. Shoim Anwar

  Kritik dan Essai 5 Cerpen M. Shoim Anwar              M. Shoim Anwar yang lahir di dusun Sambong, Kabupaten Jombang dan beliau ini ber...