Saturday, 10 July 2021

Kritik dan Essai 5 Cerpen M. Shoim Anwar

 

Kritik dan Essai 5 Cerpen M. Shoim Anwar

 

           M. Shoim Anwar yang lahir di dusun Sambong, Kabupaten Jombang dan beliau ini berprofesi sebagai dosen dan sastrawan ternama dengan ratusan-ratusan karya yang cukup fenomenal tentunya. karya-karya yang dihasilkan tersebut antara lain cerpen, novel, essai, dan puisi-puisi. Setamat dari SPG di kota kelahirannya (1984), beliau melanjutkan ke Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, IKIP Surabaya/Universitas Negeri Surabaya, hingga memperoleh gelar doktor. Program S2 dan S3 diselesaikan dengan predikat cumlaude.

          Dari beberapa karya yang dihasilkan oleh M Shoim Anwar tersebut memang cukup fenomenal dan juga merupakan sebuah kritik sosial bahkan sebuah angin segar yang menjadi sebuah harapan dan mengajak para pembacanya tersebut untuk memahami arti sebuah makna dalam perjalanan hidup ini dan kehidupan yang ada dan kelima cerpen tersebut antara lain yang pertama yaitu Sorot Mata Syaila yang ditulis pada tanggal 15 Januari 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Jawa Pos, yang kedua Tahi Lalat yang ditulis pada tanggal 20 Februari 2017 dalam kategori Arsip Cerpen, Media Indonesia, yang ketiga Sepatu Jinjit Aryanti Lalat yang ditulis pada tanggal 17 Januari 2017 dalam kategori Arsip Cerpen, Jawa Pos, yang keempat Bambi dan Perempuan Berselendang Baby Blue yang ditulis pada tanggal 31 Agustus 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Jawa Pos, dan yang terakhir yaitu Jangan ke Istana, Anakku yang ditulis pada tanggal 3 Februari 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Jawa Pos.

           Cerita pendek (cerpen) adalah bentuk prosa baru yang menceritakan sebagian kecil dari kehidupan pelakunya yang terpenting dan paling menarik. Di dalam cerpen boleh ada konflik atau pertikaian, tetapi hal itu tidak menyebabkan perubahan nasib tokohnya. Cerpen ditulis pengarang tidak terlepas dari kehidupan sehari-hari yang dialaminya. Pengalaman hidup ini kemudian diekspresikan ke dalam cerpen. Proses penciptaannya bukan semata-mata menggambarkan kehidupan nyata itu, melainkan didasari oleh pandangan pengarang. Pandangan inilah yang menggambarkan nilai dalam suatu cerpen. Seperti halnya sebuah kisah tentunya cerpen mengandung nilai-nilai kehidupan yang dapat kita ambil sebagai contoh diantaranya adalah nilai agama : berkaitan dengan pelajaran agama yang dapat dipetik dalam teks cerpen., nilai sosial : berkaitan dengan pelajaran yang dapat dipetik dari interaksi sosial antara para tokoh dan lingkungan masyarakat dalam teks cerpen, nilai moral : nilai ini berkaitan dengan nilai yang dianggap baik atau buruk dalam masyarakat. dalam cerpen nilai moral bisa berupa nilai moral negatif (buruk) atau nilai moral positif (baik), nilai budaya : nilai yang berkaitan erat dengan kebudayaan , kebiasaan, serta tradisi adat istiadat. Cerita pendek pada umumnya adalah suatu bentuk karangan fiksi, dan yang paling banyak diterbitkan adalah fiksi seperti fiksi ilmiah, fiksi horor, fiksi detektif, dan lain-lain. Cerita pendek kini juga mencakup bentuk nonfiksi seperti catatan perjalanan, prosa lirik dan varian-varian pasca modern serta non-fiksi seperti fikto-kritis atau jurnalisme baru. Cerita pendek merupakan jenis prosa fiksi yang dibaca selesai sekali duduk berkisar antara setengah jam sampai dua jam sedangkan untuk membaca novel membutuhkan waktu lebih dari dua jam. Umumnya panjang cerita kurang dari 10.000 kata. Di lain sisi, panjang novel lebih dari 10.000 kata. Tema dalam cerita pendek hanya berisi satu tema karena berkaitan dengan keadaan plot dan pelaku yang terbatas. Sementara itu, novel menawarkan lebih dari satu tema yaitu satu tema utama dan tema-tema tambahan. Jika penokohan dalam cerpen sifatnya terbatas maka hal ini tidak berlaku dalam novel. Cerita pendek menggunakan pelukisan latar secara garis besar saja sedangkan penulisan latar dalam novel memerlukan detail khusus tentang keadaan luar misalnya tentang kondisi tempat dan sosial. Setiap rangkaian peristiwa dalam novel disusun sedemikian rupa karena novel terbagi atas bab dan masing-masing bab memiliki cerita yang berbeda-beda. Cerita pendek memiliki plot tunggal hanya terdiri atas satu urutan peristiwa yang terjadi darimana saja. Karena memiliki plot tunggal, maka konflik dan klimaks yang ditimbulkan pun bersifat tunggal. Gaya bahasa yang digunakan dalam cerita pendek lebih efisien dibandingkan dengan novel.  Pengarang memilih diksi, kalimat hingga onomatope secara lebih efisien. Dalam cerpen kecermatan memilih diksi lebih kental daripada sebuah novel.

              Masing-masing dari kelima judul yang merupakan karya M. Shoim Anwar tersebut membahas realitas-realitas sosial yang terjadi saat ini dimana realitas sosial tersebut bisa dikaitkan dengan realitas-realitas sosial lainnya dalam cerpen yang pertama dengan judul Sorot Mata Syaila tersebut memiliki sebuah sinopsis yaitu di Bandara Internasional Abu Dhabi, pada pukul satu dini hari, jantung saya berdetak lebih cepat. Pipi gadis itu perlahan menempel di bahuku. Terasa lebih dekat dan hangat. Awalnya dia mencoba mengangkat kepalanya beberapa kali, tetapi seiring berjalannya waktu, kesadarannya menjadi semakin lemah. Tangan wanita itu terlipat di lututnya. Lengan bajunya terlepas. Rambut panjang tampak tumbuh di lengannya. Kulitnya bersih dan cerah, dan bulunya bisa terlihat dari pangkal hingga ujung tumbuhnya. Meskipun kukunya dipotong agak tajam, warnanya merah muda, seperti kurma dewasa di pohon. Di Uni Emirat Arab, saya harus berganti pesawat. Penumpang harus menunggu enam jam. Saya masih harus menerbangkan Etihad Airways nomor penerbangan EY 474 selama sekitar 9 jam. Jaraknya masih terbentang sekitar 5.594 kilometer. Transit dan penumpang baru memadati lantai dua. Dari sini terdapat realitas-realitas sosial dimana adanya perempuan yang memiliki model sebagai pembantu yang dalam bahasa halus merupakan seorang tenaga kerja wanita.

“Ismii Matalir,” aku memperkenalkan na ma ku. Bukan nama resmi, tapi nama panggilan waktu kecil.

Perempuan itu memandangku. Mungkin dia merasa aneh mendengarnya.

“Maasmuka? Mat…alir?”

Aku mengangguk.

“Ana min Indonesia,” aku melanjutkan. Dia tersenyum dan manggut-manggut. Beberapa saat aku masih memandang ke arahnya. Perempuan muda itu berhidung mancung dan beralis tebal. Kulit mukanya cerah dengan bibir mengilat semu merah. Bulu-bulu lembut di atas bibirnya menguat meski tampak samar.

“Ilaa ayn tadzhab?” aku bertanya ke mana dia pergi.

“Pakistan.”

Kami saling tersenyum. Koper di depannya aku rapikan lagi agar tidak menghalangi orang lewat. Kami berbasa-basi beberapa saat. Dia lalu melihat-lihat telepon selulernya, kemudian menoleh ke arahku kembali.

Dalam  beberapa kutipan yang ada dalam cerpen yang berjudul Sorot Mata Syaila tersebut memiliki kejelasan dimana sebuah perkenalan seorang wanita Indonesia dengan seorang pria berdarah Arab di Bandara Internasional Abu Dhabi ketika menunggu pesawat di ruang tunggu. Disini juga kita itu merupakan makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri tanpa bersosialisasi satu dengan yang lainnya dan kita dibelahan dunia manapun kita harus bersosialisasi dengan siapapun.

Perkara ini tidak melibatkan aku seorang diri. Seluruh keluarga, istri dan anak-anak, juga diperiksa karena diduga teraliri dana dalam bentuk kepemilikan saham perusahaan. Si alan, seorang teman anggota parlemen yang menjadi terdakwa “menyanyi” saat di persidangan, termasuk mengungkap liku-liku pemenangan tender yang telah kami skenariokan untuk perusahaan keluarga. Pengakuan itu bahkan telah masuk dalam berita acara peme riksaan alias BAP. Jumlah kerugian uang negara juga telah disebut. Dari sini juga terdapat kritik sosial dimana kita itu dimata hukum semua sama karena kita itu sebagai warga negara yang baik kita harus taat dan patut pada hukum yang berlaku karena itu akibat perbuatan kita maka kita harus bertanggung jawab.

Cerpen kedua dengan judul Tahi Lalat tersebut memiliki sinopsis yaitu Bu Lurah memiliki tahi lalat di dadanya. Ini adalah berita yang menyebar di sini. Keberadaannya seperti wabah. Lembut tapi pasti. Mungkin orang masih tidak mau mengatakannya di depan umum. Mereka membisikkan berita, dengan mulut dekat dengan telinga pendengar, sementara yang lain mendekatkan telinga ke mulut pembicara. Mereka mengangguk, tersenyum dan membuat gerakan menggelegak dengan tangan di dada, lalu mengarahkan jari telunjuk ke dada, menunjukkan bahwa mereka telah mengerti. Mungkin karena keberadaannya relatif jelas, dan orang-orang pada akhirnya akan saling memberikan kata sandi saat melewatinya. Ketika mereka berada dalam kelompok, satu orang sudah memberikan kode, dan yang lain mengacungkan jempol untuk menunjukkan pengertian. Bagi yang tidak yakin, saya akan bertanya dengan lantang ketika saya lewat.

Dalam cerpen ini juga seseorang yang menjadi seorang pemimpin haruslah turun ke bawah untuk melihat kondisi rakyatnya yang dibawah lagi mengalami kesulitan selain itu kita sebagai pemimpin harus jujur dan amanah agar rakyat bisa percaya pada kita jangan seperti pada beberapa kutipan ini

“Kalau tidak mau menjual, akan dipagari oleh pengembang perumahan,” begitulah kata-kata intimidasi yang sering dilontarkan Pak Bayan kepada warga.

“Lama-lama desa ini habis terjual,” kataku pada Pak Bayan.

“Habis gimana?” jawab Pak Bayan enteng.

“Bilang sama Pak Lurah,” aku melanjutkan, “mestinya kehidupan kami diperbaiki agar makmur. Diciptakan lapangan kerja baru. Bukan mengancam agar rakyat menjual tanahnya kayak kompeni.”

“Kalau ada perumahan, pasti warga dapat kesempatan kerja.”

“Jadi kuli dan babu!” aku menyergah

Dari beberapa kutipan tersebut hal tersebut merupakan sebuah ketidakadilan seorang petinggi yang mana petinggi tersebut memperlakukan yang tidak wajar kepada rakyat dan seakan-akan haus sekali dengan kekuasaan yang telah dimilikinya dengan cara yaitu menjual tanahnya dengan harga yang lumayan mahal. Begitu tanah-tanah yang strategis itu terlepas dari pemiliknya.

Cerpen ketiga dengan judul Sepatu Jinjit Aryanti tersebut memiliki sinopsis yaitu Tanah di bawahnya botak, seperti rambut orang tua yang rontok. Dari jendela kamar tidur di lantai 25, saya melihat gedung-gedung membentuk bayangan. Matahari hampir menyelesaikan rotasinya.

Di gedung-gedung tinggi yang belum selesai, tangga dengan katrol besar tidak lagi bergerak, dan lehernya terangkat ke langit seperti kerangka beku predator kuno. Bangunan yang lebih pendek terlihat seperti kotak yang tersebar dengan atap abu-abu dan biru. Bangunannya masih belum kokoh. Mobil diparkir di sekitarnya. Tidak ada tanda-tanda denyut kehidupan. Dari atas gedung hingga lantai bawah, suasana sepi.

Alianti masih sibuk membuka koper. Saya tidak tahu apa yang harus dicari. Sepatu kaki yang dia coba kenakan tersangkut di lantai di depan pintu. Karena membungkuk, rok wanita itu ditarik ke atas, membuat paha belakangnya lebih terlihat. Aryanti pada awalnya adalah perempuan biasa. Dia seorang caddy di lapangan golf. Kelebihannya adalah berparas cantik dan lincah. Kulitnya cerah, hidung cenderung kecil tapi terkesan runcing, serta bibir bawahnya bulat dengan belahan di tengah. Kini aku ibarat pengembala yang harus mengendalikannya. Dari sinopsis ini menjelaskan bahwa Aryanti telah mencoba sepatu jinjitnya beberapa saat setelah masuk kamar tadi. Dia berjalan memutar-mutar tak ubahnya seorang peragawati. Sejenak dia berdiri mendekatiku. Seperti dia sengaja menjajaki tinggi tubuhnya dengan aku. Terselip rasa bangga karena ketinggiannya denganku hampir sama. Dimana kita sebagai manusia tersebut haruslah bersyukur apa yang telah diberikan selama ini tersebut tidak boleh disia-siakan karena akan dicabut rezeki tersebut. Selain itu akan ada beberapa kutipan dibawah sebagai berikut

“Hai…,” kata perempuan muda yang tadi diajak Bambi berdansa.

“Hai,” saya membalas.

“Kenalkan,” Bambi menunjuk ke perempuan itu.

“Miske,” perempuan itu mengulurkan tangan, sementara tangan kiri menyibakkan rambut panjangnya yang menjurai ke pipi.

“Anik,” saya juga memperkenalkan diri.

Mereka membenahi duduknya dan bergeser. Saya ikut duduk.

“Kok cepat turunnya?” saya memulai lagi.

“Nggak kuat kalau terus salsa,” Bambi menepuk-nepuk perutnya.

Cerpen keempat dengan judul Bambi dan Perempuan Berselendang Baby Blue tersebut memiliki sinopsis yaitu Seiring dengan langkah kaki penari, Anda bisa mendengar irama tarian salsa. Lantai porselen putih susu terlihat berkilau sampai-sampai tidak ada permukaannya. Kaki itu telah melewati batas. Telapak tangan saling menopang antara telapak tangan atas dan bawah. Mereka melangkah maju ke arah yang berbeda. Saat kaki diangkat, sepertinya ada ruang kosong di tengah. Gerakannya juga berputar cepat, membentuk cerita yang enak untuk ditonton. Pantulannya terlihat sedikit kabur, tetapi terlihat indah karena membentuk garis yang lebih dalam dan lebih luas. Meski musik terdengar, langkah kaki masih bisa terdengar. Tergantung pada ritme yang mereka mainkan, terkadang lembut, terkadang keras. Iramanya memang serba cepat, energik, ceria, dan terlihat patah-patah. Saya melihat empat pasang di lantai dansa. Yang lain duduk di sana menunggu tarian Polandia berikutnya.

Cerpen kelima dengan judul Jangan ke Istana, Anakku tersebut memiliki sinopsis Aku ingin membangun sebuah rumah kecil untukmu, anakku. Ini bukan istana, karena di istana yang dikelilingi oleh sungai buaya, Anda sedang ditahan oleh anjing penjaga yang bersiap untuk memangsa pagar kawat berduri yang tinggi. Di pintu, penjaga yang tidak ramah selalu curiga terhadap tamu yang ingin menawarkan bunga. Kapan saya bisa mencampur rasa? Bunga yang Anda terima bukan dari tangan pertama. Bibir pecah-pecah itu tidak tersenyum. Itu hanya omong kosong, karena Tiantian telah disunat oleh penjaga, dan mahkotanya diganti dengan bungkus plastik. Saya adalah anggota penjaga pengadilan. Jangan mengobrol dengan siapa pun di sana. Dekrit ditulis dengan tinta abadi. Keras seperti tembaga. Saya harus berdiri tegak seperti patung di gerbang tugas. Menunggu waktu setelahnya, memuaskan dahaga dan memperkaya. Saya bukan orang yang hanya bisa meragukan keraton, karena saya hadir setiap hari sebagai saksi sejarah.

Sumber referensi :

https://id.wikipedia.org/wiki/Cerita_pendek

http://www.mikirbae.com/2017/04/unsur-kebahasaan-teks-cerpen.html

Tuesday, 15 June 2021

Kritik dan Esai Puisi “Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia” Karya Taufiq Ismail

 Kritik dan Esai Puisi “Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia” Karya  Taufiq Ismail

 

Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia


I

Ketika di Pekalongan, SMA kelas tiga

Ke Wisconsin aku dapat beasiswa

Sembilan belas lima enam itulah tahunnya

Aku gembira jadi anak revolusi Indonesia

Negeriku baru enam tahun terhormat diakui dunia

Terasa hebat merebut merdeka dari Belanda

Sahabatku sekelas, Thomas Stone namanya,

Whitefish Bay kampung asalnya

Kagum dia pada revolusi Indonesia

Dia mengarang tentang pertempuran Surabaya

Jelas Bung Tomo sebagai tokoh utama

Dan kecil-kecilan aku nara-sumbernya

Dadaku busung jadi anak Indonesia

Tom Stone akhirnya masuk West Point Academy

Dan mendapat Ph.D. dari Rice University

Dia sudah pensiun perwira tinggi dari U.S. Army

Dulu dadaku tegap bila aku berdiri

Mengapa sering benar aku merunduk kini

 

II

Langit langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak

Hukum tak tegak, doyong berderak-derak

Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, Lebuh Tun Razak,

Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza

Berjalan aku di Dam, Champs Elysees dan Mesopotamia

Di sela khalayak aku berlindung di belakang hitam kacamata

Dan kubenamkan topi baret di kepala

Malu aku jadi orang Indonesia.

 

III

Di negeriku, selingkuh birokrasi peringkatnya di dunia nomor

satu,

Di negeriku, sekongkol bisnis dan birokrasi berterang-terang

curang susah dicari tandingan,

Di negeriku anak lelaki anak perempuan, kemenakan, sepupu

dan cucu dimanja kuasa ayah, paman dan kakek secara

hancur-hancuran seujung kuku tak perlu malu,

Di negeriku komisi pembelian alat-alat besar, alat-alat ringan,

senjata, pesawat tempur, kapal selam, kedele, terigu dan

peuyeum dipotong birokrasi lebih separuh masuk

kantung jas safari,

Di kedutaan besar anak presiden, anak menteri, anak jenderal,

anak sekjen dan anak dirjen dilayani seperti presiden,

menteri, jenderal, sekjen, dan dirjen sejati, agar

orangtua mereka bersenang hati,

Di negeriku penghitungan suara pemilihan umum sangat-

sangat-sangat-sangat-sangat jelas penipuan besar-

besaran tanpa seujung rambut pun bersalah perasaan,

Di negeriku khotbah, surat kabar, majalah, buku dan

sandiwara yang opininya bersilang tak habis dan tak

putus dilarang-larang,

Di negeriku dibakar pasar pedagang jelata supaya berdiri pusat

belanja modal raksasa,

Di negeriku Udin dan Marsinah jadi syahid dan syahidah,

ciumlah harum aroma mereka punya jenazah, sekarang

saja sementara mereka kalah, kelak perencana dan

pembunuh itu di dasar neraka oleh satpam akhirat akan

diinjak dan dilunyah lumat-lumat,

Di negeriku keputusan pengadilan secara agak rahasia dan tidak

rahasia dapat ditawar dalam bentuk jual-beli, kabarnya

dengan sepotong SK suatu hari akan masuk Bursa Efek

Jakarta secara resmi,

Di negeriku rasa aman tak ada karena dua puluh pungutan, lima

belas ini-itu tekanan dan sepuluh macam ancaman,

Di negeriku telepon banyak disadap, mata-mata kelebihan kerja,

fotokopi gosip dan fitnah bertebar disebar-sebar,

Di negeriku sepakbola sudah naik tingkat jadi pertunjukan teror

penonton antarkota cuma karena sebagian sangat kecil

bangsa kita tak pernah bersedia menerima skor

pertandingan yang disetujui bersama,

 

Di negeriku rupanya sudah diputuskan kita tak terlibat Piala

Dunia demi keamanan antarbangsa, lagi pula Piala

Dunia itu cuma urusan negara-negara kecil karena Cina,

India, Rusia dan kita tak turut serta, sehingga cukuplah

Indonesia jadi penonton lewat satelit saja,

Di negeriku ada pembunuhan, penculikan dan penyiksaan rakyat

terang-terangan di Aceh, Tanjung Priuk, Lampung, Haur

Koneng, Nipah, Santa Cruz, Irian dan Banyuwangi, ada pula

pembantahan terang-terangan yang merupakan dusta

terang-terangan di bawah cahaya surya terang-terangan,

dan matahari tidak pernah dipanggil ke pengadilan sebagai

saksi terang-terangan,

Di negeriku budi pekerti mulia di dalam kitab masih ada, tapi dalam

kehidupan sehari-hari bagai jarum hilang menyelam di

tumpukan jerami selepas menuai padi.

 

IV

Langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak

Hukum tak tegak, doyong berderak-derak

Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, Lebuh Tun Razak,

Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza

Berjalan aku di Dam, Champs Elysees dan Mesopotamia

Di sela khalayak aku berlindung di belakang hitam kacamata

Dan kubenamkan topi baret di kepala

Malu aku jadi orang Indonesia.

Kritik dan Esai Puisi “Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia” Karya  Taufiq Ismail

Taufiq Ismail gelar Datuk Panji Alam Khalifatullah, (lahir di Bukittinggi, Sumatra Barat, 25 Juni 1935; umur 85 tahun), ialah seorang penyair dan sastrawan Indonesia. Taufiq Ismail lahir dari pasangan A. Gaffar Ismail (1911-1998) asal Banuhampu, Agam dan Sitti Nur Muhammad Nur (1914-1982) asal Pandai Sikek, Tanah Datar, Sumatra Barat. Taufiq tumbuh dalam keluarga guru dan wartawan yang suka membaca. Ia telah bercita-cita menjadi sastrawan sejak masih SMA. Pengkategoriannya sebagai penyair Angkatan '66 oleh Hans Bague Jassin merisaukannya, misalnya dia puas diri lantas proses penulisannya macet. Ia menulis buku kumpulan puisi, seperti Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia, Tirani dan Benteng, Tirani, Benteng, Buku Tamu Musim Perjuangan, Sajak Ladang Jagung, Kenalkan, Saya Hewan, Puisi-puisi Langit, Prahara Budaya:Kilas Balik Ofensif Lekra/PKI dkk, Ketika Kata Ketika Warna, Seulawah-Antologi Sastra Aceh, dan lain-lain. Banyak puisinya dinyanyikan Himpunan Musik Bimbo, pimpinan Samsudin Hardjakusumah, atau sebaliknya ia menulis lirik buat mereka dalam kerja sama. Iapun menulis lirik buat Chrisye, Yan Antono (dinyanyikan Ahmad Albar) dan Ucok Harahap. Menurutnya kerja sama semacam ini penting agar jangkauan publik puisi lebih luas. Mendapat Anugerah Seni dari Pemerintah (1970), Cultural Visit Award dari Pemerintah Australia (1977), South East Asia Write Award dari Kerajaan Thailand (1994), Penulisan Karya Sastra dari Pusat Bahasa (1994). Dua kali ia menjadi penyair tamu di Universitas Iowa, Amerika Serikat (1971-1972 dan 1991-1992), lalu pengarang tamu di Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur (1993). Tahun 2003, Taufiq Ismail mendapat penghargaan doktor honoris causa dari Universitas Negeri Yogyakarta.

Puisi Taufiq Ismail dengan judul "Malu Aku Menjadi Orang Indonesia" terdiri dari 4 bait. Setiap bait terdiri dari 8 sampai 12 suku kata. Puisi karya Taufiq Ismail yang berjudul  “Malu Aku Menjadi Orang Indonesia” , dengan 18 baris di bait I, 8 baris di bait II, 55 baris di bagit III, 16 baris di bagian IV, dan 8 baris di bagian IV. Saya mendapat beasiswa ketika Saya tiba di Wisconsin. Sembilan belas lima puluh enam adalah tahun. Saya sangat senang menjadi anak Revolusi Indonesia. Negara saya telah mendapatkan pengakuan dunia hanya dalam enam tahun. Senang rasanya bisa merebut kemerdekaan dari Belanda. Teman sekelas saya, Thomas Stone, namanya Whitefish Bay, kampung halamannya. Ia mengagumi revolusi di Indonesia. Dia membuat pertempuran Surabaya. Jelas, Bontomo adalah protagonis dan saya di bawah umur sebagai sumbernya. Dadaku bengkak seperti anak Indonesia. Tomstone akhirnya masuk Akademi Militer West Point dan menerima gelar doktor. Dari Universitas Beras. Dia adalah pensiunan perwira militer senior Amerika. tentara.

Puisi "Malu (Aku) Orang Indonesia" karya Taufik Ismail mudah dibaca, namun banyak kata-kata yang mubazir atau boros di dalam puisi tersebut, tetapi memiliki makna yang sama dan oleh karena itu diulang-ulang. Puisi Taufik Ismail dalam "Maru (Aku) Menjadi Orang Indonesia" banyak mendapat kritik dari segi gaya bahasa dan sedikit kata-kata seperti retorika. Puisi ini mengajarkan sikap negatif, karena dalam pandangan negara kita, demi keamanan internasional, kami memutuskan untuk tidak mengikuti Piala Dunia. Lagi pula, Piala Dunia hanya masalah negara kecil. Karena China, India, Rusia dan kita tidak ikut, Indonesia melakukan bystander melalui satelit, itu sudah cukup. tentu saja. Jika puisinya positif, Anda tidak perlu malu dengan negara Indonesia. Di negara kita, birokrasi yang curang menempati urutan pertama di dunia. Di negara kita, konspirasi perdagangan dan birokrasi terlihat jelas. Kecurangan sulit untuk dicocokkan. Di negara saya, putra, putri, keponakan, sepupu, dan cucu semuanya dimanjakan oleh kekuatan ayah, paman, dan kakek. Tidak ada rasa malu dalam penghancuran ujung kuku. Di negara saya, komisi untuk pembelian peralatan besar, peralatan ringan, senjata, jet tempur, kapal selam, kedelai, tepung, dan peuyeum telah dipotong oleh lebih dari setengah birokrasi, yang telah masuk ke kantong pakaian berburu. Di kedutaan, anak-anak presiden, menteri, jenderal, sekretaris jenderal, dan direktur diperlakukan sebagai presiden, menteri, jenderal, sekretaris jenderal, dan direktur jenderal yang sebenarnya, membiarkan orang tua mereka bersenang-senang. Di negara saya, penghitungan suara untuk pemilihan umum sangat, sangat, sangat jelas Ini adalah penipuan besar-besaran tanpa rasa bersalah sedikit pun. Dalam khotbah negara kita, dilarang menerbitkan surat kabar, majalah, buku, dan drama tanpa henti dan tanpa henti.

Referensi :

https://id.wikipedia.org/wiki/Taufiq_Ismail diakses 16 Juni 2021

http://kepadapuisi.blogspot.com/2013/07/malu-aku-jadi-orang-indonesia_295.html diakses 16 Juni 2021

 

 

Sunday, 6 June 2021

Kritik dan Esai Cerpen Setan Banteng Seno Gumira Ajidarma

 

Setan Banteng

 

-Seno Gumira Ajidarma-

 

Yogyakarta, 1968

Pada jam istirahat, akan terlihat serombongan anak laki-laki membentuk kerumunan tersendiri.

“Siapa yang berani?” pemimpin rombongan itu bertanya.

Anak-anak kelas VI sekolah dasar itu hanya saling memandang, bahkan ada yang mundur seperti ada sesuatu yang mengancamnya, tetapi ada yang menjawab tantangan itu.

“Aku!”

Selalu begitu. Sejak masa kanak-kanak pun sudah terbagi: ada yang pemberani, ada yang selalu ketakutan, ada yang penuh perhitungan dan lihat-lihat dulu.

Lantas, dengan kapur putih, salah seorang dari anak-anak itu cukup menggambar di lantai, atau kalau tidak ada kapur bisa menggunakan patahan ranting, menggurat di tanah gambaran seperti ini:

“Sudah,” katanya kepada pemimpin rombongan.

Pemimpin rombongan itu menoleh ke arah anak pemberani tadi, sambil menunjuk ke arah gambar yang terbentuk di atas tanah berpasir di dekat tembok samping sekolah.

“Ayo!” katanya dengan nada perintah.

Anak yang badannya paling besar itu pun maju mendekati gambar, menekuk lutut, mengarahkan kepala ke arah gambar seperti mau bersujud. Namun anak itu tidak bersujud, ketika wajahnya mendekati gambar jari-jari tangannya membentuk lingkaran di depan kedua mata, seperti orang yang berpura-pura memegang teropong.

Masih seperti mau bersujud, tubuhnya menekuk dengan jari-jari tangan melingkar di depan mata sampai tepat berhadapan dengan gambar makhluk bertanduk yang dimaksudkan sebagai banteng itu. Melalui jari-jari tangannya yang melingkar di depan mata itu, terhubunglah matanya dengan mata banteng.

Semua anak terdiam memperhatikan. Sedetik, dua detik, tiga detik, empat detik, lima detik, enam detik…

Pada saat itulah aku, Setan Banteng, terpanggil dan berkelebat merasuki jiwanya. Ia bangkit, perlahan tapi penuh ancaman. Tangannya sekarang lurus kencang dan mengepal. Ketika menoleh, matanya sudah menyala, wajahnya merah, dan dari hidungnya keluarlah dengusan amarah. Ya, aku, Setan Banteng, telah merasuki jiwa anak itu dan mengubahnya jadi banteng, meski tubuhnya masih anak kecil.

Ia membalikkan tubuh sepenuhnya dengan mata tersorot tajam. Kakinya menyepak-nyepak ke belakang bergantian, lantas menyerang salah satu sisi kerumunan dengan kepala agak tertunduk, seperti pada kepala itu terdapat sepasang tanduk. Banteng itu menyeruduk.

Kerumunan itu langsung bubar, dan semua anak berlari ke segala arah sambil tertawa-tawa melihat temannya telah kerasukan Setan Banteng. Sebagaimana layaknya banteng yang mengamuk, aku pun menyeruduk. Tiada lagi jiwa anak itu, yang ada hanya diriku, Setan Banteng yang menjelmakan dirinya sebagai banteng yang murka dalam permainan manusia.

Sebagaimana banteng, otaknya tidaklah secerdas manusia, meski manusia-manusia kecil yang masih ingusan sekalipun. Aku menyeruduk ke sana dan menyeruduk ke mari, karena setiap kali kukejar seorang anak yang berlari kencang sambil tertawa-tawa antara senang dan takut itu, cepat sekali dia menghilang, dan aku pun segera memburu anak-anak lain yang tampak di sekitarku.

Hiruk-pikuk dan riang gembira, begitulah permainan kanak-kanak yang memanfaatkan Setan Banteng ini, dan tentu aku menyeruduk tanpa pandang bulu. Segala sesuatu yang berada di jalur larinya anak itu kuseruduk saja tanpa kubeda-bedakan. Apakah itu anak-anak lain yang menonton dari kejauhan, anak-anak perempuan yang sedang main bèkel, ibu guru berkain kebaya yang sedang membawa map, bahkan ketika anak yang kukejar masuk ke ruang latihan paduan suara untuk keluar dari pintu lainnya, tetap kukejar juga dengan tangan lurus mengepal dan kepala yang seolah-olah memang ada tanduknya.

Aku pun tetap menyeruduk meski yang berada di jalur itu adalah para penjual es dawet, gulali yang bentuknya setelah ditiup menjadi bermacam-macam binatang, arum manis, maupun gambar umbul, karena anak yang kukejar dengan lincahnya memang sengaja melewatinya, agar aku menabrak mereka!

Segalanya berantakan. Anak perempuan menjerit-jerit meski tidak takut kepada apa pun, selain khawatir akan nasib kawan mereka yang kukejar maupun yang sedang kurasuki itu. Dengan tubuh yang agak lebih besar, anak yang kurasuki memang pantas menjadi banteng. Kedua bahunya menjadi tampak lebih kukuh, mata mendelik, wajah memerah, dan dengusnya sungguh-sungguh seperti banteng memburu lawan. Segalanya kuterabas!

Apabila kemudian semua orang sudah tidak dapat kulihat, karena memang semuanya menghindar dan bersembunyi, dan hanya tersisa dinding tembok sekolah yang kokoh, maka dengan sepenuh tenaga ke sanalah kepala anak sekolah dasar yang sesungguhnyalah tidak bertanduk ini menuju.

Tidak akan menjadi masalah bagiku jika kepala anak itu pecah. Sebagai setan, aku hanya akan melayang kembali ke langit para setan, bergabung dengan setan-setan lainnya, sampai ada lagi yang memanggil Setan Banteng demi permainan banteng mengamuk yang mengasyikkan, tetapi yang bisa sangat berbahaya ini.

Bagaimana kalau kepalanya pecah? Tentu darahnya abyor membentuk bunga merah darah di tembok. Kadang tampak indah seperti karya seni, tetapi tentu sebetulnya mengerikan-yang terpenting, ini bukanlah tanggung jawabku. Aku hanyalah Setan Banteng yang tidak berdaya menolak panggilan. Bahkan diciptakan untuk menerima panggilan itu! Apakah anak ini akan pecah kepalanya?

Kritik dan Esai Cerpen Setan Banteng Seno Gumira Ajidarma

Dr. Seno Gumira Ajidarma, S.Sn., M.Hum. (lahir di BostonAmerika Serikat19 Juni 1958; umur 62 tahun) adalah penulis dari generasi baru di sastra Indonesia. Beberapa buku karyanya adalah Atas Nama MalamWisanggeni—Sang BuronanSepotong Senja untuk PacarkuBiola tak BerdawaiKitab Omong KosongDilarang Menyanyi di Kamar Mandi, dan Negeri Senja. Dia juga terkenal karena dia menulis tentang situasi di Timor Timur tempo dulu. Tulisannya tentang Timor Timur dituangkan dalam trilogi buku Saksi Mata (kumpulan cerpen), Jazz, Parfum, dan Insiden (roman), dan Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara (kumpulan esai). Pada 2014, dia meluncurkan blog bernama PanaJournal - www.panajournal.com tentang human interest stories bersama sejumlah wartawan dan profesional di bidang komunikasi. Pada usia 19 tahun, Seno bekerja sebagai wartawan, menikah, dan pada tahun itu juga Seno masuk Institut Kesenian Jakarta, jurusan sinematografi. Dia menjadi seniman karena terinspirasi oleh Rendra yang santai, bisa bicara, hura-hura, nyentrik, rambut boleh gondrong. Sampai saat ini, Seno telah menghasilkan puluhan cerpen yang dimuat di beberapa media massa. Cerpennya Pelajaran Mengarang terpilih sebagai cerpen terbaik Kompas 1993. Buku kumpulan cerpennya, antara lain: Manusia Kamar (1988), Penembak Misterius (1993), Saksi Mata (l994), Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi (1995), Sebuah Pertanyaan untuk Cinta (1996), Iblis Tidak Pernah Mati (1999). Karya lain berupa novel Matinya Seorang Penari Telanjang (2000). Pada tahun 1987, Seno mendapat Sea Write Award. Berkat cerpennya Saksi Mata, Seno memperoleh Dinny O’Hearn Prize for Literary, 1997.

Dalam cerpen yang berjudul Setan Banteng karya Seno Gumira Ajidarma tersebut dapat memberikan gambaran sebuah gambaran tentang pentingnya dalam memberikan sebuah pembelajaran atau arahan tertentu kepada anak-anak dari masa kecil atau masa sekolah dasar mengenai sikap atau perilaku agar mereka dapat menjadi  seseorang yang tidak memiliki perilaku yang tidak sesuai dengan etika.

Hiruk-pikuk dan riang gembira, begitulah permainan kanak-kanak yang memanfaatkan Setan Banteng ini, dan tentu aku menyeruduk tanpa pandang bulu. Segala sesuatu yang berada di jalur larinya anak itu kuseruduk saja tanpa kubeda-bedakan. Apakah itu anak-anak lain yang menonton dari kejauhan, anak-anak perempuan yang sedang main bèkel, ibu guru berkain kebaya yang sedang membawa map, bahkan ketika anak yang kukejar masuk ke ruang latihan paduan suara untuk keluar dari pintu lainnya, tetap kukejar juga dengan tangan lurus mengepal dan kepala yang seolah-olah memang ada tanduknya.

Dari kutipan tersebut bahwa masa tersebut merupakan masa bahagianya mereka.

Sunday, 30 May 2021

Kritik dan Esai Puisi Agus R. Sarjono

 Puisi Agus R. Sarjono

              Sajak Palsu

Selamat pagi pak, selamat pagi bu, ucap anak sekolah
dengan sapaan palsu. Lalu merekapun belajar
sejarah palsu dari buku-buku palsu. Di  akhir sekolah
mereka terperangah melihat hamparan nilai mereka
yang palsu. Karena tak cukup nilai, maka berdatanganlah
mereka ke rumah-rumah bapak dan ibu guru
untuk menyerahkan amplop berisi perhatian
dan rasa hormat palsu. Sambil tersipu palsu
dan membuat tolakan-tolakan palsu, akhirnya pak guru
dan bu guru terima juga amplop itu sambil berjanji palsu
untuk mengubah nilai-nilai palsu dengan
nilai-nilai palsu yang baru. Masa sekolah
demi masa sekolah berlalu, merekapun lahir
sebagai ekonom-ekonom palsu, ahli hukum palsu,
ahli pertanian palsu, insinyur palsu.
Sebagian menjadi guru, ilmuwan
atau seniman palsu. Dengan gairah tinggi
mereka  menghambur ke tengah pembangunan palsu
dengan ekonomi palsu sebagai panglima
palsu. Mereka saksikan
ramainya perniagaan palsu dengan ekspor
dan impor palsu yang mengirim dan mendatangkan
berbagai barang kelontong kualitas palsu.
Dan bank-bank palsu dengan giat menawarkan bonus
dan hadiah-hadiah palsu tapi diam-diam meminjam juga
pinjaman dengan ijin dan surat palsu kepada bank negeri
yang dijaga pejabat-pejabat palsu. Masyarakatpun berniaga
dengan uang palsu yang dijamin devisa palsu. Maka
uang-uang asing menggertak dengan kurs palsu
sehingga semua blingsatan dan terperosok krisis
yang meruntuhkan pemerintahan palsu ke dalam
nasib buruk palsu. Lalu orang-orang palsu
meneriakkan kegembiraan palsu dan mendebatkan
gagasan-gagasan palsu di tengah seminar
dan dialog-dialog palsu menyambut tibanya
demokrasi palsu yang berkibar-kibar begitu nyaring
dan palsu.

1998

Kritik dan Esai Puisi Idul Fitri Sutardji Calzoum Bachri

Agus R. Sarjono dikenal sebagai penyair, cerpenis, dan esais. Ia lahir di Bandung, 27 Juli 1962. Agus R. Sarjono bersama istri dan dua anaknya kini tinggal di kawasan Cimanggis, Depok, Jawa Barat.

Pendidikan formalnya diselesaikan di IKIP Bandung (S1) pada studi Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia; dan Kajian Sastra, Fakultas Ilmu Budaya, UI untuk S-2-nya.Semasa mahasiswa ia aktif di Unit Pers Mahasiswa IKIP Bandung sebagai ketua (1987-1989).

Agus adalah salah seorang Ketua DPH Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) periode 2003-2006. Sebelumnya ia adalah Ketua Komite Sastra DKJ periode 1998-2001. Sehari-hari, ia bekerja sebagai pengajar di Jurusan Teater Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung serta menjadi redaktur majalah Sastra Horison.

Selain menjadi editor sejumlah buku antara lain: Saini KMPuisi dan Beberapa Masalahnya (1993);Catatan Seni (1996); Kapita Selekta Teater (1996); Pembebasan Budaya-Budaya Kita (1999); Dari Fansuri ke Handayani (2001); Horison Sastra Indonesia (2002); Horison Esai (2003); Malam Sutera: Sitor Situmorang (2004); Teater Tanpa Masa Silam: Arifin C. Noer (2005); Poetry and Sincerity(2006), Agus R. Sarjono juga menulis beberapa cerita pendek.

Agus R. Sarjono kerap menulis puisi, cerpen, dan esai. Karyanya dimuat berbagai koran, majalah, dan jurnal terkemuka di Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam.


Dalam puisi ini memiliki makna yaitu menggambarkan sebuah kebohongan terhadap perilaku yang tidak jujur terhadap semua hal yang terjadi didalam masyarakat. Guru yang penuh kebohongan melahirkan siswa yang pandai menipu hal ini. Penyair menggunakan kata / pilihan kata yang mudah dipahami. Bentuk puisi lebih mirip prosa. Bukan bagian yang terpisah. Subjek puisi ini adalah kebohongan yang mengakar kuat di negeri ini. Penyair lugas dan tegas dalam ekspresinya, ironis dan mengingatkan tujuan pembohong. Ketika seseorang memutuskan untuk menjadi seorang guru, apakah mereka menyadari bahwa mereka juga akan menentukan masa depan orang lain? Bukankah menentukan masa depan adalah hal terpenting dalam hidup? Tujuan yang benar harus dicapai melalui cara yang benar. Hanya satu hal yang tidak jelas tujuan membuat pilihan hidup menjadi seorang guru. Mencapai tujuan hidup dengan tidak jujur ​​adalah masalah lain. Jika keduanya terjadi pada saat bersamaan, kerusakan selesai. Sayangnya, virus perusak itu bisa menyebar ke pelajar dan orang lain.


Sunday, 23 May 2021

Kritik dan Esai Puisi Puisi Wiji Thukul

 

Kritik dan Esai Puisi Puisi Wiji Thukul 

 

Peringatan

Jika rakyat pergi

Ketika penguasa pidato

Kita harus hati-hati

Barangkali mereka putus asa

Kalau rakyat bersembunyi

Dan berbisik-bisik

Ketika membicarakan masalahnya sendiri

Penguasa harus waspada dan belajar mendengar

Bila rakyat berani mengeluh

Itu artinya sudah gasat

Dan bila omongan penguasa

Tidak boleh dibantah

Kebenaran pasti terancam

Apabila usul ditolak tanpa ditimbang

Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan

Dituduh subversif dan mengganggu keamanan

Maka hanya ada satu kata: lawan!

 

Biografi Wiji Thukul

Widji Thukul, yang bernama asli Widji Widodo adalah sastrawan dan aktivis hak asasi manusia berkebangsaan Indonesia. Thukul merupakan salah satu tokoh yang ikut melawan penindasan rezim Orde Baru. Sejak 1998 sampai sekarang dia tidak diketahui keberadaannya, dinyatakan hilang dengan dugaan diculik oleh militer. Semenjak bulan Juli 1996, Thukul sudah berpindah-pindah keluar masuk daerah dari kota satu ke kota yang lain untuk bersembunyi dari kejaran aparat. Dalam pelariannya itu Thukul tetap menulis puisi-puisi pro-demokrasi yang salah satu di antaranya berjudul Para Jendral Marah-Marah. Pada tahun 2000, Sipon melaporkan hilangnya Thukul pada KONTRAS (Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan), namun Thukul belum ditemukan hingga kini. Ada tiga sajak Thukul yang populer dan menjadi sajak wajib dalam aksi-aksi massa, yaitu Peringatan, Sajak Suara, serta Bunga dan Tembok (ketiganya ada dalam antologi "Mencari Tanah Lapang" yang diterbitkan oleh Manus Amici, Belanda, pada 1994. Tapi, sesungguhnya antologi tersebut diterbitkan oleh kerjasama KITLV dan penerbit Hasta Mitra, Jakarta. Nama penerbit fiktif Manus Amici digunakan untuk menghindar dari pelarangan pemerintah Orde Baru.

Kritik dan Esai Puisi Peringatan Karya Wiji Thukul

Makna dalam puisi yang berjudul peringatan tersebut dapat dimaknai bahwa ini sebagai kritik atau peringata kepada seorang pemimpin/penguasa yang otoriter dan kejam terhadap rakyatnya tersebut dimana masyarakat ingin mengkritik penguasa tersebut tidak bisa. Selain itu masyarakat juga putus asa untuk mengkritik pimpinan yang otoriter tersebut yang mana jika masyarakat tersebut mengkritik pemimpinnya tersebut ada yang diancam penjara, dihilangkan, dieksekusi, bahkan dihukum mati. Sang pembuat puisi ini juga dihilangkan oleh Pak Harto yang mana pada masa itu jika mengkritik pimpinan tersebut akan mendapatkan sebuah ancaman dan disinilah rakyat juga tidak suka dengan rezim yang diterapkan oleh pemimpin otoriter tersebut. Hal yang bisa dilakukan masyarakat tersebut hanyalah membicarakan hal tersebut secara diam-diam saja dan ini merupakan cara-cara mereka dalam mengkritik penguasa dan tidak ada cara lain yang bisa mereka lakukan jika kuasanya tidak benar dan yang bisa dilakukan hanya turun ke jalan untuk menyuarakan aspirasi tersebut dan dalam puisi ini seorang pemimpin tersebut harus mengayomi terhadap rakyatnya dan dicintai oleh rakyatnya pula jika tidak mau dikritik oleh rakyat.

 

 

Di Bawah Selimut Kedamaian Palsu

Apa guna punya ilmu

Kalau hanya untuk mengibuli

Apa gunanya banyak baca buku

Kalau mulut kau bungkam melulu

Di mana-mana moncong senjata

Berdiri gagah

Kongkalikong

Dengan kaum cukong

Di desa-desa

Rakyat dipaksa

Menjual tanah

Tapi, tapi, tapi, tapi

Dengan harga murah

Apa guna banyak baca buku

Kalau mulut kau bungkam melulu

Kritik dan Esai Puisi Di Bawah Selimut Kedamaian Palsu Karya Wiji Thukul

Makna dalam puisi yang berjudul Di Bawah Selimut Kedamaian Palsu tersebut dimaknai sebagai siapapun yang berdiri untuk mengkritik otoritas tersebut yang mendapatkan balasan berupa tondongan senjata, hidup dimasyarakat tersebut akan kalah dengan pihak otoritas dan mengancam serta menindas rakyat yang lemah  

Kritik dan Essai 5 Cerpen M. Shoim Anwar

  Kritik dan Essai 5 Cerpen M. Shoim Anwar              M. Shoim Anwar yang lahir di dusun Sambong, Kabupaten Jombang dan beliau ini ber...