Kritik dan Esai Puisi Puisi
Wiji Thukul
Peringatan
Jika
rakyat pergi
Ketika
penguasa pidato
Kita
harus hati-hati
Barangkali
mereka putus asa
Kalau
rakyat bersembunyi
Dan
berbisik-bisik
Ketika
membicarakan masalahnya sendiri
Penguasa
harus waspada dan belajar mendengar
Bila
rakyat berani mengeluh
Itu
artinya sudah gasat
Dan
bila omongan penguasa
Tidak
boleh dibantah
Kebenaran
pasti terancam
Apabila
usul ditolak tanpa ditimbang
Suara
dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
Dituduh
subversif dan mengganggu keamanan
Maka
hanya ada satu kata: lawan!
Biografi Wiji Thukul
Widji Thukul, yang bernama asli Widji Widodo adalah
sastrawan dan aktivis hak asasi manusia berkebangsaan Indonesia. Thukul
merupakan salah satu tokoh yang ikut melawan penindasan rezim Orde Baru. Sejak
1998 sampai sekarang dia tidak diketahui keberadaannya, dinyatakan hilang
dengan dugaan diculik oleh militer. Semenjak bulan Juli 1996, Thukul sudah
berpindah-pindah keluar masuk daerah dari kota satu ke kota yang lain untuk bersembunyi
dari kejaran aparat. Dalam pelariannya itu Thukul tetap menulis puisi-puisi
pro-demokrasi yang salah satu di antaranya berjudul Para Jendral Marah-Marah.
Pada tahun 2000, Sipon melaporkan hilangnya Thukul pada KONTRAS (Komisi untuk
Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan), namun Thukul belum ditemukan hingga
kini. Ada tiga sajak Thukul yang populer dan menjadi sajak wajib dalam
aksi-aksi massa, yaitu Peringatan, Sajak Suara, serta Bunga dan Tembok
(ketiganya ada dalam antologi "Mencari Tanah Lapang" yang diterbitkan
oleh Manus Amici, Belanda, pada 1994. Tapi, sesungguhnya antologi tersebut diterbitkan
oleh kerjasama KITLV dan penerbit Hasta Mitra, Jakarta. Nama penerbit fiktif
Manus Amici digunakan untuk menghindar dari pelarangan pemerintah Orde Baru.
Kritik dan Esai Puisi Peringatan Karya
Wiji Thukul
Makna dalam puisi yang berjudul peringatan tersebut dapat
dimaknai bahwa ini sebagai kritik atau peringata kepada seorang pemimpin/penguasa
yang otoriter dan kejam terhadap rakyatnya tersebut dimana masyarakat ingin
mengkritik penguasa tersebut tidak bisa. Selain itu masyarakat juga putus asa
untuk mengkritik pimpinan yang otoriter tersebut yang mana jika masyarakat
tersebut mengkritik pemimpinnya tersebut ada yang diancam penjara, dihilangkan,
dieksekusi, bahkan dihukum mati. Sang pembuat puisi ini juga dihilangkan oleh
Pak Harto yang mana pada masa itu jika mengkritik pimpinan tersebut akan
mendapatkan sebuah ancaman dan disinilah rakyat juga tidak suka dengan rezim
yang diterapkan oleh pemimpin otoriter tersebut. Hal yang bisa dilakukan
masyarakat tersebut hanyalah membicarakan hal tersebut secara diam-diam saja
dan ini merupakan cara-cara mereka dalam mengkritik penguasa dan tidak ada cara
lain yang bisa mereka lakukan jika kuasanya tidak benar dan yang bisa dilakukan
hanya turun ke jalan untuk menyuarakan aspirasi tersebut dan dalam puisi ini
seorang pemimpin tersebut harus mengayomi terhadap rakyatnya dan dicintai oleh
rakyatnya pula jika tidak mau dikritik oleh rakyat.
Di
Bawah Selimut Kedamaian Palsu
Apa guna
punya ilmu
Kalau
hanya untuk mengibuli
Apa
gunanya banyak baca buku
Kalau
mulut kau bungkam melulu
Di
mana-mana moncong senjata
Berdiri
gagah
Kongkalikong
Dengan
kaum cukong
Di
desa-desa
Rakyat
dipaksa
Menjual
tanah
Tapi,
tapi, tapi, tapi
Dengan
harga murah
Apa guna
banyak baca buku
Kalau
mulut kau bungkam melulu
Kritik
dan Esai Puisi Di Bawah Selimut Kedamaian Palsu Karya Wiji Thukul
Makna
dalam puisi yang berjudul Di Bawah Selimut Kedamaian Palsu tersebut dimaknai
sebagai siapapun yang berdiri untuk mengkritik otoritas tersebut yang
mendapatkan balasan berupa tondongan senjata, hidup dimasyarakat tersebut akan
kalah dengan pihak otoritas dan mengancam serta menindas rakyat yang lemah
No comments:
Post a Comment