Sunday, 23 May 2021

Kritik dan Esai Puisi Puisi Wiji Thukul

 

Kritik dan Esai Puisi Puisi Wiji Thukul 

 

Peringatan

Jika rakyat pergi

Ketika penguasa pidato

Kita harus hati-hati

Barangkali mereka putus asa

Kalau rakyat bersembunyi

Dan berbisik-bisik

Ketika membicarakan masalahnya sendiri

Penguasa harus waspada dan belajar mendengar

Bila rakyat berani mengeluh

Itu artinya sudah gasat

Dan bila omongan penguasa

Tidak boleh dibantah

Kebenaran pasti terancam

Apabila usul ditolak tanpa ditimbang

Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan

Dituduh subversif dan mengganggu keamanan

Maka hanya ada satu kata: lawan!

 

Biografi Wiji Thukul

Widji Thukul, yang bernama asli Widji Widodo adalah sastrawan dan aktivis hak asasi manusia berkebangsaan Indonesia. Thukul merupakan salah satu tokoh yang ikut melawan penindasan rezim Orde Baru. Sejak 1998 sampai sekarang dia tidak diketahui keberadaannya, dinyatakan hilang dengan dugaan diculik oleh militer. Semenjak bulan Juli 1996, Thukul sudah berpindah-pindah keluar masuk daerah dari kota satu ke kota yang lain untuk bersembunyi dari kejaran aparat. Dalam pelariannya itu Thukul tetap menulis puisi-puisi pro-demokrasi yang salah satu di antaranya berjudul Para Jendral Marah-Marah. Pada tahun 2000, Sipon melaporkan hilangnya Thukul pada KONTRAS (Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan), namun Thukul belum ditemukan hingga kini. Ada tiga sajak Thukul yang populer dan menjadi sajak wajib dalam aksi-aksi massa, yaitu Peringatan, Sajak Suara, serta Bunga dan Tembok (ketiganya ada dalam antologi "Mencari Tanah Lapang" yang diterbitkan oleh Manus Amici, Belanda, pada 1994. Tapi, sesungguhnya antologi tersebut diterbitkan oleh kerjasama KITLV dan penerbit Hasta Mitra, Jakarta. Nama penerbit fiktif Manus Amici digunakan untuk menghindar dari pelarangan pemerintah Orde Baru.

Kritik dan Esai Puisi Peringatan Karya Wiji Thukul

Makna dalam puisi yang berjudul peringatan tersebut dapat dimaknai bahwa ini sebagai kritik atau peringata kepada seorang pemimpin/penguasa yang otoriter dan kejam terhadap rakyatnya tersebut dimana masyarakat ingin mengkritik penguasa tersebut tidak bisa. Selain itu masyarakat juga putus asa untuk mengkritik pimpinan yang otoriter tersebut yang mana jika masyarakat tersebut mengkritik pemimpinnya tersebut ada yang diancam penjara, dihilangkan, dieksekusi, bahkan dihukum mati. Sang pembuat puisi ini juga dihilangkan oleh Pak Harto yang mana pada masa itu jika mengkritik pimpinan tersebut akan mendapatkan sebuah ancaman dan disinilah rakyat juga tidak suka dengan rezim yang diterapkan oleh pemimpin otoriter tersebut. Hal yang bisa dilakukan masyarakat tersebut hanyalah membicarakan hal tersebut secara diam-diam saja dan ini merupakan cara-cara mereka dalam mengkritik penguasa dan tidak ada cara lain yang bisa mereka lakukan jika kuasanya tidak benar dan yang bisa dilakukan hanya turun ke jalan untuk menyuarakan aspirasi tersebut dan dalam puisi ini seorang pemimpin tersebut harus mengayomi terhadap rakyatnya dan dicintai oleh rakyatnya pula jika tidak mau dikritik oleh rakyat.

 

 

Di Bawah Selimut Kedamaian Palsu

Apa guna punya ilmu

Kalau hanya untuk mengibuli

Apa gunanya banyak baca buku

Kalau mulut kau bungkam melulu

Di mana-mana moncong senjata

Berdiri gagah

Kongkalikong

Dengan kaum cukong

Di desa-desa

Rakyat dipaksa

Menjual tanah

Tapi, tapi, tapi, tapi

Dengan harga murah

Apa guna banyak baca buku

Kalau mulut kau bungkam melulu

Kritik dan Esai Puisi Di Bawah Selimut Kedamaian Palsu Karya Wiji Thukul

Makna dalam puisi yang berjudul Di Bawah Selimut Kedamaian Palsu tersebut dimaknai sebagai siapapun yang berdiri untuk mengkritik otoritas tersebut yang mendapatkan balasan berupa tondongan senjata, hidup dimasyarakat tersebut akan kalah dengan pihak otoritas dan mengancam serta menindas rakyat yang lemah  

No comments:

Post a Comment

Kritik dan Essai 5 Cerpen M. Shoim Anwar

  Kritik dan Essai 5 Cerpen M. Shoim Anwar              M. Shoim Anwar yang lahir di dusun Sambong, Kabupaten Jombang dan beliau ini ber...