Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup
Cerpen ini merupakan buah karya dari M.Shoim Anwar salah satu sastrawan kelahiran Desa Sambong Dukuh, Jombang, Jawa Timur. Setamat dari SPG di kota kelahirannya, dia melanjutkan ke Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, IKIP Surabaya dan Universitas Negeri Surabaya, hingga memperoleh gelar master dan doktor dengan predikat cum laude. Shoim banyak menulis cerpen, novel, esai, dan puisi di berbagai media.
Dalam cerpen yang berjudul "Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup" tersebut memiliki cerita dimana sikap dan pembicaraan para orang tua kami seakan memberi contoh bahwa begitulah yang harus kami lakukan terhadap Gus Usup, termasuk kepada saudaranya seperti Gus Man, Gus Mak, Gus Roz, dan Gus Zin. Di antara mereka itu hanya Gus Usup yang bergaul akrab dengan siapa saja. Dia tak pernah memelihara kumis dan jenggot, tapi tepat di bagian bawah bibirnya terdapat rambut yang dibiarkan tumbuh hingga membentuk gerumbul yang manis di wajahnya. Rumah Gus Usup di lingkungan pondok dengan kampung kami memang dipisah oleh bentangan sawah. Bila Gus Usup tidak pulang, Fadilah, keponakannya, sering mencari di pojok kampung tempat dia bermain kartu.
Entah mengapa Gus Usup belum menikah, padahal kalau dia mau, tinggal memilih bidadari di kampung kami yang paling cantik pasti terkabul. Para gadis pun diam-diam berusaha menampakkan diri ketika Gus Usup yang tampan itu lewat. Sebagai teman sepermainan Gus Usup, Guk Mat bekerja di pabrik gula. Pasti Gus Usup rajin ke sawah, baik yang berada di belakang pondok maupun di sebelah utara kampung. Segala yang ditanam Gus Usup tumbuh dengan baik. Saat malam, ketika kami berburu jangkrik sambil membawa obor, terong-terong itu sering kami curi untuk dimakan mentah-mentah, meski banyak juga di antara kami takut kalau terkena sesuatu setelah makan terong Gus Usup.
Itulah yang paling menjadi perhatian bagi kami: cincin akik yang melingkar di jari manis Gus Usup. Saat bermain kartu, terutama ketika malam menjelang ada orang hajatan di kampung, akik sisik naga Gus Usup itu hampir pasti menjadi pembicaraan.Dengan memakai akik itu konon Gus Usup tidak pernah kalah dalam bermain kartu. Mungkin karena sering mendengar cerita soal akik Gus Usup, tidak sedikit yang berusaha mendekat sambil menuding-nuding akik itu, terutama mereka yang berumur belasan tahun Gus Usup hanya tersenyum sambil tetap bermain kartu remi di acara hajatan warga. Guk Mat teringat, di tengah permainan tadi dia juga sempat menyembunyikan uang kemenangan di saku jaket Gus Usup yang dipakainya.
Akik Gus Usup itu ternyata ikut tertinggal di saku jaketnya, Akik sisik naga milik Gus Usup itu terus diperhatikan di kedua ujung jarinya.Dia sadar bahwa benda itu milik Gus Usup, tapi lama-lama timbul keinginan pada diri Guk Mat untuk memiliki sisik naga itu.
Cerpen “Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup” memiliki amanat bahwa kesukaan untuk memiliki sebuah benda boleh tapi jika itu untuk hiasan atau karena rasa suka saja tapi jangan gunakan itu sebagai kepercayaan yang terlalu berlebihan sehingga menimbulkan rasa syirik.

No comments:
Post a Comment