Friday, 7 May 2021

Kritik dan Esai Puisi Mashuri

 Kritik dan Esai Puisi Mashuri

Puisi 1

Sowan

akhirnya sampai juga aku di tepi danaumu, mencicipi
bening tirta, mencoba menjadi pengail dekil yang tak
berharap dapat menangkap ikan-ikan purwapurna, kerna
miskin teknik, umpan, dan doa. tapi memandang air
danaumu nan tenang adalah pesta sesungguhnya. biarlah
langgam ulam itu tetap berenang dan berterbangan di sana,
menghiasi kedung dan angkasanya, agar netra dan nasab
pengetahuan ini – pencarian ini – masih bersandar pada
ritus murni, tidak berlarat dalam corat-coret luka di dinding
zaman – retak berkah, kelabu, mengambang – seperti
bangkai mina yang kini marak membusuk di jalanan.

Jampes, 2019

Puisi 2

Takdir Daun

aku hanya selembar daun kering, ning, luruh terbawa angin.
bila kini aku merona di pigura yang menempel di dinding
dunia, kerna hidupku berarus di degup jantungmu, kerna
perkenan tanganmu yang sudi memungutku dari bumi
lusuh. lalu apa yang pantas aku balas kepadamu, selain
cinta dan rindu.

Tulungagung, 2019

Puisi 3

Hantu Musim

 

aku hanya musim yang dikirim rebah hutan
kenangan – memungut berbuah, dedaunan, juga
unggas – yang pernah mampir di pinggir semi
semarakkan jamuan, yang kelak kita sebut
pertemuan awal, meski kita tahu, tetap mata
itu tak lebih hanya mengenal kembali peta
lama, yang pernah tergurat berjuta masa

bila aku hujan, itu adalah warta kepada ular
sawah hasratku, yang tergetar oleh percumbuan
yang kelak kita sebut sebagai cinta, entah yang
pertama atau keseribu, kerna di situ, aku mampu
mengenal kembali siku, lingkar, bulat, penuh

di situ, aku panas, sekaligus dingin
sebagaimana unggas yang pernah kita lihat
di telaga, tetapi bayangannya selalu
mengirimkan warna sayu, kelabu
dan kita selalu ingin mengulang-ulangnya
dengan atau tanpa cerita tentang musim
yang terus berganti…

Magelang, 2012

Kritik dan Esai Puisi Karya Mashuri

Puisi di atas merupakan salah satu karya seorang sastrawan yang bernama Mashuri. Mashuri lahir di Lamongan 27 April 1976. Mashuri adalah lulusan dari Universitas Airlangga dan Universitas Gadjah Mada. Mashuri telah banyak menulis puisi, cerpen, esai, novel, naskah drama, sejarah lokal, dan kajian ilmiah. Salah satu hasil karya beliau adalah puisi di atas dengan judul Sowan, Takdir Daun, Jula-Juli Remah Roti, Hantu Musim.

Secara etimologis, puisi berasal dari kata poites (bahasa Yunani), yang artinya membangun, pembuat, atau pembentuk. Sementara itu, dalam bahasa latin istilah ini muncul dari kata poeta, yang bermakna membangun, menimbulkan, menyebabkan,  dan menyair. Selanjutnya, kata tersebut mengalami penyempitan makna menjadi hasil karya seni sastra yang kata-katanya disusun menurut syarat, prinsip atau aturan tertentu dengan menggunakan rima, irama, sajak dan kadang-kadang kata kiasan (Sitomorang, 1980: 10). Pradopo (1995) mengatakan bahwa puisi adalah rekaman dan interpretasi dari berbagai pengalaman manusia yang penting, digubah dalam bentuk atau wujud yang paling berkesan.

Dalam puisi pertama dengan judul sowan tersebut menggambarkan bahwa kehidupan yang ada saat ini bahwa kita sebagai manusia tersebut harus menjalani kejamnya kehidupan yang ada saat ini serta kita harus senantiasa menjadi manusia yang bermanfaat bagi manusia yang lain. Selain itu kita sebagai manusia juga harus memiliki wawasan yang luas karena dengan wawasan luas tersebut kita dapat membangun sebuah kemajuan dalam peradaban ini selain itu pula kemenangan dalam pesta tersebut dapat kita raih dengan prestasi ataupun apresiasi keberhasilan yang dicapai oleh masing-masing individu yang juga merupakan makhluk sosial yang hidup harus berdampingan dan juga butuh bantuan serta bergotong royong dan hidup dalam kerukunan didalam beragama dikarenakan dalam hal tersebut bahwa perbedaan itu sangat indah.

Dalam puisi ke-1 dengan judul “Sowan” ini memiliki makna yaitu pada baris awal-awal dalam bait puisi tersebut yaitu

akhirnya sampai juga aku di tepi danaumu, mencicipi

bening tirta, mencoba menjadi pengail dekil yang tak

berharap dapat menangkap ikan-ikan purwapurna, kerna

miskin teknik, umpan, dan doa.

Yang mana makna tersebut adalah suatu pencapaian dalam memperjuangkan untuk mendapatkan misi kehidupan ini tersebut haruslah butuh sebuah pengorbanan karena dengan pengorbanan tersebut kita bisa belajar sesuatu dari sebelumnya agar kita dapat menjadi orang yang lebih baik kedepannya nanti karena kesuksesan yang kita raih saat ini tersebut merupakan bibit yang kita tanam dimasa lalu yang nantinya akan menjadi buah yang bermanfaat dimasa yang akan datang.

Dalam puisi ke-2 dengan judul “Takdir Daun” tersebut menggambarkan bahwa kehidupan yang ada saat ini tersebut yaitu keminderan seseorang yang sulit untuk mengarungi kejamnya dalam kehidupan yang keras saat ini yang membuat mentalnya tersebut dalam keterpurukan tetapi kita sebagai manusia itu tidak boleh pantang menyerah begitu saja tetapi kita sebagai manusia harus berusaha dan bekerja keras untuk menghasilkan sebuah kebaikan-kebaikan yang mana kebaikan tersebut akan memiliki manfaat yang banyak bagi kemashalat umat serta limpahan pahala untuk ladang amal sholeh kita nantinya serta dari hasil bibit kebaikan yang kita raih tersebut dapat menjadikan suatu balasan kebaikan dikemudian hari jika itu hal kebaikan maka jika sebaliknya tersebut balasan tersebut merupakan hal keburukan maka konsekuensi atau hal yang menjadi balasan tersebut akan datang sendirinya, maka dari itu kita harus berlomba-lomba dalam berbuat kebaikan serta kita dalam hidup juga harus optimis dan percaya diri karena dengan hal itu kita dapat menjadi orang yang lebih baik serta menjadikan hari-hari kita yang setiap hari semakin produktif serta memberikan kontribusi yang terbaik.

Dalam puisi kedua dengan judul “Takdir Daun” ini memiliki makna yaitu pada baris awal-awal dalam bait puisi tersebut yaitu

aku hanya selembar daun kering, ning, luruh terbawa angin.

bila kini aku merona di pigura yang menempel di dinding

dunia,

Yang mana makna tersebut yaitu menunjukkan bahwa kehidupan hari ini perasaan seseorang, sulit baginya untuk mengembara dalam kekejaman kehidupan yang keras saat ini, yang membuatnya dalam keadaan tertekan secara mental, tetapi sebagai manusia, kita tidak bisa begitu saja menyerah, dan sebagai manusia. makhluk, kita harus melakukan yang terbaik dan untuk menghasilkan semacam keramahan

Dalam puisi ketiga dengan judul “Hantu Musim” tersebut menggambarkan bahwa kehidupan yang ada saat ini tersebut kita sebagai manusia haruslah mensyukuri anugerah yang diberikan berupa kekayaan alam dan kondisi sawah yang baik yang haruslah dirawat dengan baik.

No comments:

Post a Comment

Kritik dan Essai 5 Cerpen M. Shoim Anwar

  Kritik dan Essai 5 Cerpen M. Shoim Anwar              M. Shoim Anwar yang lahir di dusun Sambong, Kabupaten Jombang dan beliau ini ber...