Kritik dan Esai Puisi Mashuri
Puisi
1
Sowan
akhirnya
sampai juga aku di tepi danaumu, mencicipi
bening tirta, mencoba menjadi pengail dekil yang tak
berharap dapat menangkap ikan-ikan purwapurna, kerna
miskin teknik, umpan, dan doa. tapi memandang air
danaumu nan tenang adalah pesta sesungguhnya. biarlah
langgam ulam itu tetap berenang dan berterbangan di sana,
menghiasi kedung dan angkasanya, agar netra dan nasab
pengetahuan ini – pencarian ini – masih bersandar pada
ritus murni, tidak berlarat dalam corat-coret luka di dinding
zaman – retak berkah, kelabu, mengambang – seperti
bangkai mina yang kini marak membusuk di jalanan.
Jampes, 2019
Puisi
2
Takdir
Daun
aku
hanya selembar daun kering, ning, luruh terbawa angin.
bila kini aku merona di pigura yang menempel di dinding
dunia, kerna hidupku berarus di degup jantungmu, kerna
perkenan tanganmu yang sudi memungutku dari bumi
lusuh. lalu apa yang pantas aku balas kepadamu, selain
cinta dan rindu.
Tulungagung, 2019
Puisi
3
Hantu
Musim
aku
hanya musim yang dikirim rebah hutan
kenangan – memungut berbuah, dedaunan, juga
unggas – yang pernah mampir di pinggir semi
semarakkan jamuan, yang kelak kita sebut
pertemuan awal, meski kita tahu, tetap mata
itu tak lebih hanya mengenal kembali peta
lama, yang pernah tergurat berjuta masa
bila
aku hujan, itu adalah warta kepada ular
sawah hasratku, yang tergetar oleh percumbuan
yang kelak kita sebut sebagai cinta, entah yang
pertama atau keseribu, kerna di situ, aku mampu
mengenal kembali siku, lingkar, bulat, penuh
di situ, aku panas, sekaligus dingin
sebagaimana unggas yang pernah kita lihat
di telaga, tetapi bayangannya selalu
mengirimkan warna sayu, kelabu
dan kita selalu ingin mengulang-ulangnya
dengan atau tanpa cerita tentang musim
yang terus berganti…
Magelang, 2012
Kritik dan Esai Puisi
Karya Mashuri
Puisi di atas
merupakan salah satu karya seorang sastrawan yang bernama Mashuri. Mashuri
lahir di Lamongan 27 April 1976. Mashuri adalah lulusan dari Universitas
Airlangga dan Universitas Gadjah Mada. Mashuri telah banyak menulis puisi,
cerpen, esai, novel, naskah drama, sejarah lokal, dan kajian ilmiah. Salah satu
hasil karya beliau adalah puisi di atas dengan judul Sowan, Takdir Daun, Jula-Juli
Remah Roti, Hantu Musim.
Secara
etimologis, puisi berasal dari kata poites (bahasa Yunani), yang artinya
membangun, pembuat, atau pembentuk. Sementara itu, dalam bahasa latin istilah
ini muncul dari kata poeta, yang bermakna membangun, menimbulkan,
menyebabkan, dan menyair. Selanjutnya,
kata tersebut mengalami penyempitan makna menjadi hasil karya seni sastra yang
kata-katanya disusun menurut syarat, prinsip atau aturan tertentu dengan
menggunakan rima, irama, sajak dan kadang-kadang kata kiasan (Sitomorang, 1980:
10). Pradopo (1995) mengatakan bahwa puisi adalah rekaman dan interpretasi dari
berbagai pengalaman manusia yang penting, digubah dalam bentuk atau wujud yang
paling berkesan.
Dalam puisi
pertama dengan judul sowan tersebut menggambarkan bahwa kehidupan yang ada saat
ini bahwa kita sebagai manusia tersebut harus menjalani kejamnya kehidupan yang
ada saat ini serta kita harus senantiasa menjadi manusia yang bermanfaat bagi
manusia yang lain. Selain itu kita sebagai manusia juga harus memiliki wawasan
yang luas karena dengan wawasan luas tersebut kita dapat membangun sebuah
kemajuan dalam peradaban ini selain itu pula kemenangan dalam pesta tersebut
dapat kita raih dengan prestasi ataupun apresiasi keberhasilan yang dicapai
oleh masing-masing individu yang juga merupakan makhluk sosial yang hidup harus
berdampingan dan juga butuh bantuan serta bergotong royong dan hidup dalam
kerukunan didalam beragama dikarenakan dalam hal tersebut bahwa perbedaan itu
sangat indah.
Dalam puisi ke-1
dengan judul “Sowan” ini memiliki makna yaitu pada baris awal-awal dalam bait
puisi tersebut yaitu
akhirnya sampai juga aku di tepi danaumu,
mencicipi
bening tirta, mencoba menjadi pengail dekil
yang tak
berharap dapat menangkap ikan-ikan
purwapurna, kerna
miskin teknik, umpan, dan doa.
Yang mana makna
tersebut adalah suatu pencapaian dalam memperjuangkan untuk mendapatkan misi
kehidupan ini tersebut haruslah butuh sebuah pengorbanan karena dengan
pengorbanan tersebut kita bisa belajar sesuatu dari sebelumnya agar kita dapat
menjadi orang yang lebih baik kedepannya nanti karena kesuksesan yang kita raih
saat ini tersebut merupakan bibit yang kita tanam dimasa lalu yang nantinya
akan menjadi buah yang bermanfaat dimasa yang akan datang.
Dalam puisi
ke-2 dengan judul “Takdir Daun” tersebut menggambarkan bahwa kehidupan yang ada
saat ini tersebut yaitu keminderan seseorang yang sulit untuk mengarungi
kejamnya dalam kehidupan yang keras saat ini yang membuat mentalnya tersebut
dalam keterpurukan tetapi kita sebagai manusia itu tidak boleh pantang menyerah
begitu saja tetapi kita sebagai manusia harus berusaha dan bekerja keras untuk
menghasilkan sebuah kebaikan-kebaikan yang mana kebaikan tersebut akan memiliki
manfaat yang banyak bagi kemashalat umat serta limpahan pahala untuk ladang
amal sholeh kita nantinya serta dari hasil bibit kebaikan yang kita raih
tersebut dapat menjadikan suatu balasan kebaikan dikemudian hari jika itu hal
kebaikan maka jika sebaliknya tersebut balasan tersebut merupakan hal keburukan
maka konsekuensi atau hal yang menjadi balasan tersebut akan datang sendirinya,
maka dari itu kita harus berlomba-lomba dalam berbuat kebaikan serta kita dalam
hidup juga harus optimis dan percaya diri karena dengan hal itu kita dapat menjadi
orang yang lebih baik serta menjadikan hari-hari kita yang setiap hari semakin
produktif serta memberikan kontribusi yang terbaik.
Dalam puisi kedua
dengan judul “Takdir Daun” ini memiliki makna yaitu pada baris awal-awal dalam
bait puisi tersebut yaitu
aku hanya selembar daun kering, ning, luruh
terbawa angin.
bila kini aku merona di pigura yang menempel
di dinding
dunia,
Yang mana makna
tersebut yaitu menunjukkan bahwa kehidupan hari ini perasaan seseorang, sulit
baginya untuk mengembara dalam kekejaman kehidupan yang keras saat ini, yang
membuatnya dalam keadaan tertekan secara mental, tetapi sebagai manusia, kita
tidak bisa begitu saja menyerah, dan sebagai manusia. makhluk, kita harus
melakukan yang terbaik dan untuk menghasilkan semacam keramahan
Dalam puisi
ketiga dengan judul “Hantu Musim” tersebut menggambarkan bahwa kehidupan yang
ada saat ini tersebut kita sebagai manusia haruslah mensyukuri anugerah yang
diberikan berupa kekayaan alam dan kondisi sawah yang baik yang haruslah
dirawat dengan baik.
No comments:
Post a Comment