Saturday, 24 April 2021

Kritik dan Essai Cerpen Sulastri dan Empat Lelaki

 Sulastri dan Empat Lelaki

Cerpen M. Shoim Anwar (Jawa Pos, 6 November 2011)






Cerpen diatas tersebut merupakan salah satu buah karya dari M. Shoim Anwar yang lahir di dusun Sambong, Kabupaten Jombang dan beliau ini berprofesi sebagai dosen dan sastrawan ternama dengan ratusan-ratusan karya yang cukup fenomenal tentunya. karya-karya yang dihasilkan tersebut antara lain cerpen, novel, essai, dan puisi-puisi. Setamat dari SPG di kota kelahirannya (1984), beliau melanjutkan ke Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, IKIP Surabaya/Universitas Negeri Surabaya, hingga memperoleh gelar doktor. Program S2 dan S3 diselesaikan dengan predikat cumlaude.

Dalam cerita ini memiliki ringkasan yaitu bahwa lautan tersebut membentang dari pantai hingga batasnya. Dimana gelombang besar tersebut tidak kunjung datang. Ini hanyalah sebuah gerakan miring di permukaan udara yang sangat panas sekali. Pasir tersebut meledak di bawah sinar matahari. Tidak ada gambar yang jelas di sepanjang pantai tersebut. Dermaga yang menjorok ke tengah itu kosong. Katrol di ujung stasiun tersebut juga terletak dengan kuat di celah. Perbudakan ini sepertinya tidak pernah jenuh, menunggu kapal yang ditambatkan dari tempat selain Samudera Hindia atau Terusan Suez, atau kapal dari negara barat (mungkin Mesir, Sudan, Eritrea) atau kapal domestik yang memilih jalur laut. Panas dari Yaman ke pantai Laut Merah, yang berbatasan dengan Yordania. Sulastri tahu, polisi tak akan menangkapnya tanpa imbalan. Kalau ingin ditangkap dan dideportasi, dia harus bergabung dengan beberapa teman, mengumpulkan uang setidaknya seribu real per orang, lalu diserahkan pada para perantara yang bekerja ala mafia. Para perantara inilah yang akan menghubungi polisi agar menangkap sekumpulan orang yang sudah diatur tempat dan waktunya.

Perbudakan itu sepertinya tidak pernah jenuh, menunggu kapal yang ditambatkan dari daratan yang jauh dari Samudra Hindia atau Terusan Suez, atau kapal dari negara-negara Barat (mungkin Mesir, Sudan, Eritrea) atau kapal pengapalan domestik yang memilih jalur laut. Akhirnya, tampaknya rusak sebelum selesai, dan dia menatap ke laut. Setelah bersembunyi di bangunan pahatan abstrak yang tersebar di pantai, dia mengalami kesulitan dalam memanjat. Tiang-tiang pengikat seperti tak pernah jenuh menanti kapal-kapal yang merapat dari negeri jauh melalui Lautan Hindia atau Terusan Suez, atau dari negeri di sebelah barat, mungkin Mesir, Sudan, Eritrea, atau angkutan domestik yang memilih jalur laut.

Saat Surastri gemetar dan terengah-engah, pria bernama Musa itu tiba-tiba muncul di hadapannya. Sulastri menangkapnya dan memeluknya sebagai upaya terakhir untuk melarikan diri dari kejaran Firaun. Saat itu, Surastri merasakan sesuatu di tangannya. Ketika Fir'aun sedang menyeringai dan hendak menerkam, wanita itu memukul tubuh Fir'aun dengan tongkat. Seperti tembikar pecah, tubuh Firaun hancur berkeping-keping di pasir. Tongkat itu terasa licin dan memutar tangan Surastri. Surastri melihat seekor ular besar menyembul dari laut dan menghisap tubuh Fir'aun.

Dalam ceritanya, implikasinya tersebut adalah kegiatan perbudakan yang terjadi seakan tidak pernah jenuh, menunggu kapal berlabuh di darat yang jauh dari Samudera Hindia atau Terusan Suez, atau menunggu kapal dari negara-negara Barat (mungkin Mesir, Sudan, Eritrea ) untuk berlabuh atau memilih rute laut di kapal angkutan negara selain hal itu bahwa panas dari Yaman ke pantai Laut Merah, yang berbatasan dengan Yordania. Perbudakan itu sepertinya tak kunjung jenuh, menunggu kapal merapat dari daratan jauh dari Samudera Hindia atau Terusan Suez, atau kapal dari negara Barat (mungkin Mesir, Sudan, Eritrea) atau kapal domestik yang memilih jalur laut. Di bibir Laut Merah, Sulastri banyak berpikir saat gemetar di tepi Bengawan Solo. Di sini, sang suami mengabdikan hidupnya untuk kuburan dan pusaka keluarga. Saat Surastri gemetar dan terengah-engah, pria bernama Musa itu tiba-tiba muncul di hadapannya. Sulastri mendapati dirinya berlutut di pantai. Tongkat yang dia pegang tidak ada di sana. Dia bertanya pada dirinya sendiri, ini hanya mimpi. Dia memandangi laut yang tak berujung. Sulastri masih di sini, di tepi Laut Merah yang terpencil, jauh dari anak-anak dan keluarga. Elang itu melayang tinggi di atasnya, dan terdengar teriakan keras di telinga Surastri.

 

Hubungan Sulastri dan Empat Lelaki Dengan Berbagai Masalah Yang Ada Dibawah Ini Yaitu :

 

1.      Ideologi

Dalam cerita tersebut terdapat masalah yang berkaitan dengan aspek hubungan ideologi yang mana  kegiatan perbudakan yang terjadi seakan tidak pernah jenuh, menunggu kapal berlabuh di darat yang jauh dari Samudera Hindia atau Terusan Suez selain itu sang suami mengabdikan hidupnya untuk kuburan dan pusaka keluarga. Saat Surastri gemetar dan terengah-engah, pria bernama Musa itu tiba-tiba muncul di hadapannya. Dalam hal ini bahwa ideologi itu memiliki keterkaitan erat dengan perilaku pemikiran yang terjadi antar satu individu dengan individu lainnya selain itu Sulastri adalah seorang gelandangan. Jika dia ingin ditangkap dan dideportasi, dia harus bergabung dengan beberapa temannya, meminta setidaknya seribu real masing-masing, dan kemudian menyerahkannya kepada seorang perantara yang mirip mafia.

2.      Politik

Dalam cerita tersebut terdapat masalah yang berkaitan dengan aspek hubungan politik yang mana Polisi segera menindaklanjuti. Keduanya tampak seperti sedang mengejar. Akhirnya Sulastri meluncur kembali ke area seni pahat abstrak. Polisi kembali ke pos mereka dalam hal ini dimana seorang Sulastri tersebut dalam berpolitik haruslah menurut dengan pihak polisi dan harus memberikan sebuah keterangan dengan sejelas-jelasnya dan janganlah lari dari sebuah kenyataan yang ada dari sini pula juga adanya kepercayaan terhadap mafia yang mana jika kita bersalah harus mengakuinya

3.      Sosial

Dalam cerita tersebut terdapat masalah yang berkaitan dengan aspek hubungan sosial yang mana Saat Surastri gemetar dan terengah-engah, tiba-tiba seorang bernama Musa muncul di hadapannya. Sulastri menangkapnya dan memeluknya sebagai upaya terakhir untuk melarikan diri dari kejaran Firaun. Saat itu, Surastri meraba tangannya dimana hubungan sosial ini adalah sebuah bentuk dalam kegiatan bersosialisasi satu dengan yang lainnya serta dalam kehidupan tersebut kita harus menjaga sebuah etika yang berlaku dimasyarakat. Pada ujungnya yang terkesan patah karena belum selesai, dia menatap ke arah laut. Dia telah naik dengan agak susah setelah bersembunyi pada bangunan patung-patung abstrak yang menyebar di wilayah pantai.

4.      Ekonomi

Dalam cerita tersebut terdapat masalah yang berkaitan dengan aspek hubungan ekonomi yang mana Sulastri  mendapati dirinya bersimpuh di pasir pantai. Dimana pekerjaan Sulastri tersebut yang sebagai TKW (Tenaga Kerja Wanita) tersebut menjadi seorang asisten rumah tangga orang luar yang mana dalam pekerjaannya tersebut mendapatkan gaji yang lebih tinggi nyatanya dilapangan gajinya pun juga sama saja gaji sama seperti di negara sendiri selain itu di negara sendiri juga bisa menghasilkan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan dalam hidup tersebut dimana faktor yang membuat kurangnya kreativitas dan ketersediaan lapangan pekerjaan dan keterampilan yang tidak memadai dengan modal nekat pun Sulastri rela meninggalkan keluarganya yang ada di Indonesia tetapi ketika disana dia kena oleh pihak kepolisian dan berusaha untuk lari tetapi juga ketahuan pada akhirnya.

5.      Budaya

Dalam cerita tersebut terdapat masalah yang berkaitan dengan aspek hubungan Budaya yang mana Sulastri terus berlari. Firaun keluar, lebih cepat dan lebih cepat, lalu lari. Suara gemuruh terdengar di tanggul. Dari kejauhan, seorang gadis kecil dikejar oleh seorang raksasa. Fir'aun mengimbau Surastri untuk berhenti, tapi mereka yang dikejar mengabaikannya. Jaraknya semakin dekat dan dekat. Tekanan Sulastri bahkan lebih besar. Tentu saja polisi Penjaga Pantai tidak membantunya. Pada saat yang sama, firaun menjadi semakin ganas. Sulastri melompati tanggul.

6.      Religi

Dalam cerita tersebut terdapat masalah yang berkaitan dengan aspek hubungan religi yang mana dicerita tersebut terdapat cerita kisah nabi nuh Ketika Fir'aun sedang menyeringai dan hendak menerkam, wanita itu memukul tubuh Fir'aun dengan tongkat. Seperti tembikar pecah, tubuh Firaun hancur berkeping-keping di pasir. Tongkat itu terasa licin dan memutar tangan Surastri. Surastri melihat seekor ular besar menyembul dari laut dan menghisap tubuh Fir'aun, lelaki yang tadi dipanggil sebagai Musa tiba-tiba muncul lagi di hadapannya. Sulastri meraih dan memeluknya sebagai jalan terakhir untuk menyelamatkan diri dari kejaran Firaun.

No comments:

Post a Comment

Kritik dan Essai 5 Cerpen M. Shoim Anwar

  Kritik dan Essai 5 Cerpen M. Shoim Anwar              M. Shoim Anwar yang lahir di dusun Sambong, Kabupaten Jombang dan beliau ini ber...