Sulastri dan Empat Lelaki
Cerpen M. Shoim Anwar (Jawa Pos, 6 November 2011)
Cerpen diatas
tersebut merupakan salah satu buah karya dari M. Shoim Anwar yang lahir di
dusun Sambong, Kabupaten Jombang dan beliau ini berprofesi sebagai dosen dan
sastrawan ternama dengan ratusan-ratusan karya yang cukup fenomenal tentunya.
karya-karya yang dihasilkan tersebut antara lain cerpen, novel, essai, dan
puisi-puisi. Setamat dari SPG di kota kelahirannya (1984), beliau melanjutkan
ke Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, IKIP Surabaya/Universitas
Negeri Surabaya, hingga memperoleh gelar doktor. Program S2 dan S3 diselesaikan
dengan predikat cumlaude.
Dalam cerita ini
memiliki ringkasan yaitu bahwa lautan tersebut membentang dari pantai hingga
batasnya. Dimana gelombang besar tersebut tidak kunjung datang. Ini hanyalah sebuah
gerakan miring di permukaan udara yang sangat panas sekali. Pasir tersebut meledak
di bawah sinar matahari. Tidak ada gambar yang jelas di sepanjang pantai
tersebut. Dermaga yang menjorok ke tengah itu kosong. Katrol di ujung stasiun
tersebut juga terletak dengan kuat di celah. Perbudakan ini sepertinya tidak
pernah jenuh, menunggu kapal yang ditambatkan dari tempat selain Samudera
Hindia atau Terusan Suez, atau kapal dari negara barat (mungkin Mesir, Sudan,
Eritrea) atau kapal domestik yang memilih jalur laut. Panas dari Yaman ke
pantai Laut Merah, yang berbatasan dengan Yordania. Sulastri tahu, polisi tak akan
menangkapnya tanpa imbalan. Kalau ingin ditangkap dan dideportasi, dia harus
bergabung dengan beberapa teman, mengumpulkan uang setidaknya seribu real per
orang, lalu diserahkan pada para perantara yang bekerja ala mafia. Para
perantara inilah yang akan menghubungi polisi agar menangkap sekumpulan orang
yang sudah diatur tempat dan waktunya.
Perbudakan itu
sepertinya tidak pernah jenuh, menunggu kapal yang ditambatkan dari daratan
yang jauh dari Samudra Hindia atau Terusan Suez, atau kapal dari negara-negara
Barat (mungkin Mesir, Sudan, Eritrea) atau kapal pengapalan domestik yang
memilih jalur laut. Akhirnya, tampaknya rusak sebelum selesai, dan dia menatap
ke laut. Setelah bersembunyi di bangunan pahatan abstrak yang tersebar di
pantai, dia mengalami kesulitan dalam memanjat. Tiang-tiang pengikat seperti
tak pernah jenuh menanti kapal-kapal yang merapat dari negeri jauh melalui
Lautan Hindia atau Terusan Suez, atau dari negeri di sebelah barat, mungkin
Mesir, Sudan, Eritrea, atau angkutan domestik yang memilih jalur laut.
Saat Surastri
gemetar dan terengah-engah, pria bernama Musa itu tiba-tiba muncul di
hadapannya. Sulastri menangkapnya dan memeluknya sebagai upaya terakhir untuk
melarikan diri dari kejaran Firaun. Saat itu, Surastri merasakan sesuatu di
tangannya. Ketika Fir'aun sedang menyeringai dan hendak menerkam, wanita itu
memukul tubuh Fir'aun dengan tongkat. Seperti tembikar pecah, tubuh Firaun
hancur berkeping-keping di pasir. Tongkat itu terasa licin dan memutar tangan
Surastri. Surastri melihat seekor ular besar menyembul dari laut dan menghisap
tubuh Fir'aun.
Dalam ceritanya,
implikasinya tersebut adalah kegiatan perbudakan yang terjadi seakan tidak
pernah jenuh, menunggu kapal berlabuh di darat yang jauh dari Samudera Hindia
atau Terusan Suez, atau menunggu kapal dari negara-negara Barat (mungkin Mesir,
Sudan, Eritrea ) untuk berlabuh atau memilih rute laut di kapal angkutan negara
selain hal itu bahwa panas dari Yaman ke pantai Laut Merah, yang berbatasan
dengan Yordania. Perbudakan itu sepertinya tak kunjung jenuh, menunggu kapal
merapat dari daratan jauh dari Samudera Hindia atau Terusan Suez, atau kapal
dari negara Barat (mungkin Mesir, Sudan, Eritrea) atau kapal domestik yang
memilih jalur laut. Di bibir Laut Merah, Sulastri banyak berpikir saat gemetar
di tepi Bengawan Solo. Di sini, sang suami mengabdikan hidupnya untuk kuburan
dan pusaka keluarga. Saat Surastri gemetar dan terengah-engah, pria bernama
Musa itu tiba-tiba muncul di hadapannya. Sulastri mendapati dirinya berlutut di
pantai. Tongkat yang dia pegang tidak ada di sana. Dia bertanya pada dirinya
sendiri, ini hanya mimpi. Dia memandangi laut yang tak berujung. Sulastri masih
di sini, di tepi Laut Merah yang terpencil, jauh dari anak-anak dan keluarga.
Elang itu melayang tinggi di atasnya, dan terdengar teriakan keras di telinga
Surastri.
Hubungan Sulastri dan Empat Lelaki Dengan Berbagai
Masalah Yang Ada Dibawah Ini Yaitu :
1.
Ideologi
Dalam cerita
tersebut terdapat masalah yang berkaitan dengan aspek hubungan ideologi yang
mana kegiatan perbudakan yang terjadi
seakan tidak pernah jenuh, menunggu kapal berlabuh di darat yang jauh dari Samudera
Hindia atau Terusan Suez selain itu sang suami mengabdikan hidupnya untuk
kuburan dan pusaka keluarga. Saat Surastri gemetar dan terengah-engah, pria
bernama Musa itu tiba-tiba muncul di hadapannya. Dalam hal ini bahwa ideologi itu
memiliki keterkaitan erat dengan perilaku pemikiran yang terjadi antar satu individu
dengan individu lainnya selain itu Sulastri adalah seorang gelandangan. Jika
dia ingin ditangkap dan dideportasi, dia harus bergabung dengan beberapa
temannya, meminta setidaknya seribu real masing-masing, dan kemudian
menyerahkannya kepada seorang perantara yang mirip mafia.
2.
Politik
Dalam cerita
tersebut terdapat masalah yang berkaitan dengan aspek hubungan politik yang
mana Polisi segera menindaklanjuti. Keduanya tampak seperti sedang mengejar.
Akhirnya Sulastri meluncur kembali ke area seni pahat abstrak. Polisi kembali
ke pos mereka dalam hal ini dimana seorang Sulastri tersebut dalam berpolitik
haruslah menurut dengan pihak polisi dan harus memberikan sebuah keterangan
dengan sejelas-jelasnya dan janganlah lari dari sebuah kenyataan yang ada dari
sini pula juga adanya kepercayaan terhadap mafia yang mana jika kita bersalah
harus mengakuinya
3.
Sosial
Dalam cerita
tersebut terdapat masalah yang berkaitan dengan aspek hubungan sosial yang mana
Saat Surastri gemetar dan terengah-engah, tiba-tiba seorang bernama Musa muncul
di hadapannya. Sulastri menangkapnya dan memeluknya sebagai upaya terakhir
untuk melarikan diri dari kejaran Firaun. Saat itu, Surastri meraba tangannya
dimana hubungan sosial ini adalah sebuah bentuk dalam kegiatan bersosialisasi
satu dengan yang lainnya serta dalam kehidupan tersebut kita harus menjaga
sebuah etika yang berlaku dimasyarakat. Pada ujungnya yang terkesan patah
karena belum selesai, dia menatap ke arah laut. Dia telah naik dengan agak
susah setelah bersembunyi pada bangunan patung-patung abstrak yang menyebar di
wilayah pantai.
4.
Ekonomi
Dalam cerita
tersebut terdapat masalah yang berkaitan dengan aspek hubungan ekonomi yang
mana Sulastri mendapati dirinya bersimpuh
di pasir pantai. Dimana pekerjaan Sulastri tersebut yang sebagai TKW (Tenaga Kerja
Wanita) tersebut menjadi seorang asisten rumah tangga orang luar yang mana
dalam pekerjaannya tersebut mendapatkan gaji yang lebih tinggi nyatanya
dilapangan gajinya pun juga sama saja gaji sama seperti di negara sendiri
selain itu di negara sendiri juga bisa menghasilkan sesuatu untuk memenuhi
kebutuhan dalam hidup tersebut dimana faktor yang membuat kurangnya kreativitas
dan ketersediaan lapangan pekerjaan dan keterampilan yang tidak memadai dengan
modal nekat pun Sulastri rela meninggalkan keluarganya yang ada di Indonesia
tetapi ketika disana dia kena oleh pihak kepolisian dan berusaha untuk lari
tetapi juga ketahuan pada akhirnya.
5.
Budaya
Dalam cerita
tersebut terdapat masalah yang berkaitan dengan aspek hubungan Budaya yang mana
Sulastri terus berlari. Firaun keluar, lebih cepat dan lebih cepat, lalu lari.
Suara gemuruh terdengar di tanggul. Dari kejauhan, seorang gadis kecil dikejar
oleh seorang raksasa. Fir'aun mengimbau Surastri untuk berhenti, tapi mereka
yang dikejar mengabaikannya. Jaraknya semakin dekat dan dekat. Tekanan Sulastri
bahkan lebih besar. Tentu saja polisi Penjaga Pantai tidak membantunya. Pada
saat yang sama, firaun menjadi semakin ganas. Sulastri melompati tanggul.
6.
Religi
Dalam cerita
tersebut terdapat masalah yang berkaitan dengan aspek hubungan religi yang mana
dicerita tersebut terdapat cerita kisah nabi nuh Ketika Fir'aun sedang
menyeringai dan hendak menerkam, wanita itu memukul tubuh Fir'aun dengan
tongkat. Seperti tembikar pecah, tubuh Firaun hancur berkeping-keping di pasir.
Tongkat itu terasa licin dan memutar tangan Surastri. Surastri melihat seekor
ular besar menyembul dari laut dan menghisap tubuh Fir'aun, lelaki yang tadi
dipanggil sebagai Musa tiba-tiba muncul lagi di hadapannya. Sulastri meraih dan
memeluknya sebagai jalan terakhir untuk menyelamatkan diri dari kejaran Firaun.

No comments:
Post a Comment