Di Jalan Jabal Al-Kaabah
Oleh : M. Shoim Anwar
Dalam
cerpen tersebut dapat diceritakan sosok seorang Tuan Amali dan Nyonya Tilah yang
mana dalam cerita tersebut tokoh tersebut mengemudi kendaraan ke arah Jarwal
Al-Tayssir, taxi di depan pejalan kaki yang semakin sibuk, melewati Jalan Jabal
Al-Kaabah, dan tiba di Jalan Umm Al-Tayssir. -Qura Road). Setelah beberapa
saat, jalanan kembali menanjak. Saat lampu menyala, suasananya mulai menjadi
unik. Kemudian, kendaraan berbalik arah dan melaju ke jalur kiri untuk
menurunkan penumpang di halte. Ada suara parau di terowongan bawah tanah di
Jalan Ibrahim Al-Khalil. Kendaraan yang bergerak, generator, station wagon,
blower, dan lampu listrik bertegangan tinggi akan mengguncang seluruh ruangan.
Setelah
turun dari mobil, Pak Amali buru-buru menuruni tangga dan naik eskalator.
Istrinya, Tilah, setengah berlari mengikuti jejak suaminya. Orang-orang sangat
ingin mengejar waktu. Eskalator naik dan menyembul keluar dari halaman,
seolah-olah seseorang telah keluar dari tanah. Tiba-tiba, mereka tiba di
halaman Masjid Agung di sebelah Hotel Dar Al-Tawhid. Hampir selalu ingatan Pak
Amara adalah "Tangan Allah". Sebagai kepala desa yang bukan warga
sekitar, segala upaya Pak Amali beserta peralatannya gagal mengubah gaya hidup
warga. Sebagian besar penduduk Tuan Amali adalah pengemis yang diturunkan dari
generasi ke generasi. Akal mereka selalu “istirahat di tangan Allah”, jadi
ketika mereka mengangkat tangan dan orang lain mengulurkan tangan untuk
memberi, itu adalah manifestasi dari “istirahat di tangan Allah”.
Di
pagi hari, mereka menyebar ke berbagai tujuan. Beberapa memakai pakaian jelek
dan lusuh untuk membangkitkan rasa kasihan, beberapa berpakaian bagus. Orang
yang mengemis secara kolektif akan membagi penghasilannya. Hasil mengemis A
pada hari senin, hasil mengemis pada hari selasa, hasil mengemis c pada hari
rabu, dan seterusnya. Terkadang mereka juga setuju untuk membagikan
pendapatannya secara merata dalam waktu seminggu. Dari kejauhan, orang yang dia
panggil tadi menoleh. Dia mencari seseorang untuk memanggil namanya. Pak Amali
tidak menanggapi. Orang tua itu berjalan kembali. Nah, Pak Amali yakin bahwa
lelaki tua yang disapanya tadi memang Pak Dottier, dan dia sendiri juga
penghuni haji tahun ini.
Seperti
kebanyakan warga di kampung, Pak Dotil sendiri selalu pengemis, selalu
nongkrong di depan pintu Pasar Rebo. Tahun ini, dia pergi berziarah dan
bergabung dengan kelompok di kota lain sehingga dia bisa bergabung dengan
kelompoknya bersama kakaknya. Setelah dia berdoa di kota ini, ternyata Pak
Dottier menggunakannya untuk mengemis. Mungkin bagi Pak Dottier, mengemis juga
bagian dari ibadah, karena “dipelihara di tangan Allah”.
Makna
yang disampaikan didalam cerpen tersebut memiliki makna seseorang yang hidup
dimuka bumi ini senantiasa harus beristiqomah didalam menjalankan ibadah dan
dari ibadah tersebut kita dapat ganjaran-ganjaran berupa pahala serta kita
didalam kehidupan ini bahwa rezeki yang kita miliki tersebut sebagiannya bukan
harta kita tetapi ada harta orang lain yang harus kita bagikan kepada orang
yang membutuhkan. Dari sini pula akal mereka selalu “istirahat di tangan
Allah”, jadi ketika mereka mengangkat tangan dan orang lain mengulurkan tangan
untuk memberi, itu adalah manifestasi dari “istirahat di tangan Allah”. Bahwa dalam
kehidupan ini terkait rezeki, hidup, mati, serta jodoh dan karir tersebut sudah
diatur oleh yang kuasa tinggal kita sebagai manusia dapat melalui ini semua
dengan sebuah ketulusan karena dengan tulus tersebut membuat seseorang menjadi
lebih baik kedepannya.

No comments:
Post a Comment